Tidak Ada Alasan untuk Bertahan

253925_1740362199223_1543735794_31412618_3173484_nMungkin ini lah yang dirasakan oleh sebagian kader yang satu-satu persatu mulai enggan bertahan dan mempertahankan IMM UB, karena dianggap proses mengaktualisasikan diri bisa didapat dari luar organisasi yang telah mapan dan memiliki nama besar serta memiliki prestise yang lebih dibandingkan IMM UB yang kecil dan bahkan  tidak memiliki  opportunity atau keuntungan yang di dapat di dalamnya. Di tambah lagi tidak didukung oleh perhatian para senior bahkan ketua, yang akhirnya  tidak sedikit yang bersinggung pemikiran yang berujung kepada rasa sakit hati.

Rasa semacam ini pernah saya rasakan, sebelum akhirnya saya diselamatkan oleh kader yang luar biasa, yang sampai sekarang secara tidak langsung membantu saya untuk bergerak di Korkom Brawijaya. Sempat merasa frustasi melihat kondisi IMM UB yang di luar harapanya saya sebelumnya. Rasa sakit hati, kurang diperhatikan, tidak diberdayakan, merasa hampa dan bertanya-tanya, “apakah ini IMM?, kegiatannnya hanya rutinitas dari tahun ke tahun yang membosankan?”, bahkan saya sempat berkata dalam hati, “apa sih kegiatan IMM UB ini? Ada gak sih?”

SAM_6895Namun jiwa Muhammadiyah yang melekat sejak lahir mampu mempertahnkan dan menyelamatkan saya. Karena memang sempat berfikiran kenapa harus tetap berjuang di IMM UB, toh sya sendiri disini gak ngapai-ngapai dan tidak dianggap, dan sempat 1 priode perjalanan tidak ada sesuatu yang saya lakukan, hanya numpang nama dijabatan struktural saja. Tahun kepungurusan baru pun datang, mungkin ini juga hikmah dari adanya pemekaran, pemberdayaan kader-kader yang sebelumnya memiliki bakat tersembunyi mulai terlihat.

Konsekuensipun harus dijalani, dengan kondisi dan situasi yang penuh dengan dinamika ikatan, terutama masalah kuantitas kader. Bak bersambut gayung, tawaran Kabid Hikmah disodorkan ke saya. Dari pengalaman saya diatas, saya sebenarnya sudah tidak ada alasan lagi untuk bertahan bahkan berjuang di IMM UB. Tapi entah apa yang akhirnya saya mau menerimanya. Sempat saya mempunyai mimpi untuk membuat gebrakan di IMM UB, yang menurut saya ada sesuatu kegiatan yang tidak harus dari tahun ke tahun itu-itu saja. Nah mungkin mimpi ini lah yang pada akhirnya membuat saya semangat.

edit9Saya sangat bertermkasi berada dalam kelauarga Muhammadiyah, sekolah di Pondok Muhammadiyah, dan sempat berada di pengurusan IPM di Pondok dahulu, sebab sebenarnya ini lah titik tolak saya pertama kali ingin masuk IMM ketika kuliah di Jawa adalah pengalaman buruk saya di IPM dahulu, bukan karena IPM nya yang buruk tapi saya mengaggapa saya masih belum mantap untuk berorganisasi dahulu, dan sedikit ada rasa kecewa dengan kepungurusan IPM.

Cinta terhadap Muhammadiyah pun berujung di Bangku Kuliah, dengan niat untuk mencari dan berjuang layaknya Mahasiswa yang peduli dengan masalah bangsa, saya harus masuk IMM. Alhamdulillah ternyata kampus yang saya masukin terdapat IMM yang merupakan cita-cita sebelum masuk kuliah. Dan ternyata harapan-harapan saya ketika masuk IMM UB tidak sseperti saya bayangkan sebelumnya. Saya kurang diberdayakan dan dikasih kepercayaan lebih yang akhirnya saya sempat deperesi.

—-

CIMG0228Menjelang penutupan DAD pun tiba, karena saya suka politik dan kebetulan berada di FISIP, saya memilih Bidang Hikmah sebagai prioritas, dan pilihan kedua adalah Bidang dakwah, saya mengira  cukup berpengalaman dalam bidang ini, karena sempat saya menjadi Ketua Bidang Dakwah di IPM dulu, dan saya menganggap bidang dakwah tugasnya adalah ceramah, pidato atau mengisi tausiyah, dan saya rasa sya punya pengalaman untuk ini. Sebab karena ketika malam Ramadhan tiba, saya sudah sering mengisi kultum sinkata ba’da shubuh atau malam tarawih. Kemampuan ini adalah bekal belajar saya di pondok. Namun pada akhirnya, kakanda senior-senior lebih memilih saya masuk di Bidang Hikmah.

Perkiraan saya karena ini bidang Ini khusus membindangi hubungan politik kebangsaan dan kenegaraan akan terjadi diskusi-diskusi menarik membahas terhadap masalah bangsa dan tindakan nyata. Namun tidak lah sesuai yang diharapakan. Mohon maaf karena sempat saya kecewa dengan ketua Bidang Hikmah pada waktu itu, yang akhinya juga memimpin di masa priodenya yang kedua.

IMAG0644Namun yang menurut saya pada waktu itu sangat perhatian dan mendukung secara moril pada adalah Ketua Umum IMM UB. Beliau adalah orang sangat menghargai dan men-support mendukung walaupun hasilnya tidak seberapa, saya senang dengan senior seperti ini, mempunyai pemikiran cerdas dan menurut saya orannya tulus. Dan saya memang kurang suka melihat jika ada para senior yang hanya mencari-cari kesalahan kurang menghargai dan memuji jeri payah hasil kerja para juniornya.

Kekecewaan ini berlanjut di priode yang ke dua saya di IMM, bak orang kebingungan saya sebenarnya ngapain di IMM ini dan tidak ada alasan lagi untuk saya bertahan di IMM. Hingga akhirnya teman saya yang luar biasa yang sampai sekarang mendampingi saya di Korkom menawari saya untuk menjabat di Bidang Hikmah, dan langsung ditawarin sebagai ketua, ya padahal melihat track record saya tidak berbuat apa-apa di IMM sebelumnya. Namun sekali lagi saya mempunyai mimpi yang saya jelaskan sebelumnya. Tujuan awal sebenarnya, Saya ingin menunjukkan bahwa bidang Hikmah di IMM UB bukanlah bidang pelengkap, yang minim kegiatan, dan ingin menampilkan dan membuktikan  Bidang  ini bidang yang penting dan diperhitungkan. Karena juga saya ingin IMM UB harus punya gebrakan kegiatan besIMAG0474kala Nasional. Tidak hanya rame waktu di DAD doank, setelah itu mati atau melempem setelahnya. Karena menurut saya DAD hanya pintu awal dan pintu gerbangnya saja. Dan kita harus meriahkan IMM dengan kegiatan-kegiatan yang WAH di dalamnya. Proses atau Kegiatannya harus Lebih Besar daripada Pintu Gerbangnya.

Alhamdulillah. Seminar nasional di bawah gerakan Bid. Hikmah bisa dilaksanakan. Setelah moment ini entah kenapa saya semakin cinta dengan IMM UB. Saya kangen dengan proses di dalamnya terutama pengalaman berharga bersama teman-teman berjuang mensukseskan acara Semnas pada waktu itu. Mendadak pula orang yang dulu hanya melihat sekilas, tidak tahu nama dan melihat batang hidungnya mulai akrab dan asik untuk dibawa bercandaan (maklum saya suka orang yang humoris). Lah kok pada masa akhir study kuliah saya ini, malah dipilih temen-temen jadi Ketua Korkom. Entah apa alasan mereka namun yang jelas amanah ini harus diperjuangkan sampai akhir.

IMG_2357Kembali kepada topik yang saya ambil di atas, “tidak ada alasan untuk bertahan”. Namun toh akhinya saya kok bertahan. Ternyata jawaban ini baru saya dapatkan akhir-akhir ini. Pada Akhirnya saya menyadari, bukan apa yang saya dapatkan di IMM, namun apa yang harus saya berikan untuk IMM. IMM adalah lahan dakwah, lahan berjuang dan lahan Ibadah. IMM UB kecil malah itu tantangannya yang membuatnya menarik, untuk berfikir bagaimana membesarkan IMM yang Kecil ini untuk membesarkan namanya di Kampus Kebanggan UB dan di Masyarakat. Mahasiswa yang diakui cerdas bukan berada pada zona nyaman atau mapan yang memiliki oppurtunity yang lebih pasti dan menjanjikan, tapi mahasiswa yang cerdas mampu membangkitkan dan memperjuangkan dakwah di tempat yang kecil, sempit, kumuh untuk menjadi besar dan berkarya.

 Salam Perjuangan FASTABIQUL KHOIRAT!!
-IMM JAYA-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s