Sepakbola sebagai Media Propaganda

tikus bolaPemanfaatan Sepok Bola sebagai sebuah media propaganda dinilai cukup efektif, karena begitu potensialnya arena olahraga ini untuk mencari basis dukungan, serta mengingat sepakbola adalah cabang olahraga yang paling digemari di Indonesia saat ini. Celah ini dapat dimanfaatkan melalui penguasaan hak siar, iklan dan sponsor, pemanfaaatan basis suporter, kepemilikan saham klub, pemanfaatan situasi konflik, serta melalui pembentukan kompetisi atau kejuaraan. Tidak hanya dapat dimanfaat sebagai alat propaganda pemerintah, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh lawan politik untuk menjatuhkan reputasi pemerintah, dan sebagai alat mencari simpati dan suara rakyat.

Pertama, penguasaan hak siar. Langkah ini dianggap cukup efektif, terlihat ketika Bakrie Group melalui TV One, dan ANTV, berusaha sekeras tenaga untuk mendapat hak siar pada kompetisi liga sepakbola tertentu, mulai dari liga Indonesia hingga Piala Dunia 2014 Brazil. Begitu juga media Bakrie lainnya seperti Viva News dan Goal.Com yang sangat membantu dalam pembirataan sepakbola melalui media internet. Tentu ini adalah moment yang tepat, mengingat Pemilu 2014 sudah semakin dekat dan di depan mata. Bagaimna tidak, Aburizal Bakrie (ARB) sebagai pemilik Bakrie Group tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini mengingat basis media yang dimilikinya cukup potensial untuk mampu menguasai hak siar ini, dengan melihat penelusuran yang dilakukan Nielsen Audience Measurement, menyebutkan bahwa 94 persen masyarakat Indonesia mengkonsumsi media melalui televisi.[1] Dengan penayangan yang intens terhadap pertandingan-pertandingan, pemberitaan, iklan dan highlight-highlight lainnya memberikan kesempatan lebih besar bagi ARB untuk menampilkan iklan gratis bagi dirinya sebagai Calon Presiden (Capres) pada Pemilu 2014 mendatang. Memang semenjak dirinya dilantik sebagai Ketua Umum Partai Golkar dan selanjutnya dengan waktu yang terkesan mendadak beliau ditasbihkan sebagai Capres perwakilan dari Partai yang berlambang beringin tersebut, TV One dan Media Bakrie lainnya sangat gencar memberitakan Golkar dan ARB, misalnya saja pemberitaan tentang Musyawarah Besar Golkar atau HUT Golkar, dan pemberitaan kegiataan sosial yang dilakukan Partai Golkar lainnya dengan framing media yang diatur sedemikian rupa.

Kedua, pemanfaatan hak siar sangat erat kaitannya dengan iklan yang disajikan. celah dalam menanyangkan laga sepak bola, Big Match pada liga Indonesia dan Piala Dunia adalah kesempatan bagi perusahaan tertentu untuk terlibat dalam hak sponsor pada setiap jeda iklan di setiap pertandingan, peluang jeda iklan inilah yang juga akan dimanfaatkan ARB dan Golkar sebagai modal pencitraan untuk Pemilu 2014 mendatang, dengan mengingat kembali Pemilu 2014 (9 April) adalah tahun yang bertepatan dengan Piala Dunia Brazil nanti (13 Juni – 13 Juli). Begitu juga Liga Indonesia yang selalu Akrab dengan ANTV dan bahkan di musim ini TV One juga ikut terlibat dalam proses penyiaran, hal ini membuktikan begitu pentingnya sepak bola sebagai alat atau sarana media bagi Bakrie Group dan Family sebagai kesempatan yang potensial dalam peroses pencitraan. Hal ini memberikan Pelajaran bagaimana media itu telah menjadi alat propaganda. Salah satu filter dalam teori propaganda adalah kepemilikan media. Media memiliki hubungan timbal balik secara langsung dengan kepentingan politik dan ekonomi pemiliknya. Semakin dominan media dikuasai oleh seseorang, semakin mudah media dalam kendali kepentingan dan syahwat politik pengontrol.

Ketiga, Liga Indonesia yang pada umunya digemari oleh masyarakat menengah ke bawah, ada lahan potensial untuk Aktor dan Partai Politik mengatasnamakan wong cilik dalam mencari basis dukungan. Pernyataan ini bukan tanpa alasan menurut data LSI (Lingkaran Survei Indonesia) tahun 2012, menyebutkan tingkat golput (golangan putih) akan banyak dilakukan oleh kelompok masyarakat menengah dan atas, yang umumnya berpendidikan baik dan paham politik, tapi apatis dan cuek dan masa bodoh.[2] Sehingga dengan tinggginya angka golput di kalangan pemilih kelas menengah dan atas, pada akhirnya yang terjadi adalah, suara pemilih di pemilu dan pilpres kelak, kebanyakan hanya disumbang oleh pemilih setia dari kalangan bawah dan berpenghasilan rendah. Kelompok bawah dan berpenghasian rendah ini, sangat rawan menjadi sasaran ‘money politics‘ oleh para pemain (caleg, parpol) dan kelompok ‘vested interest‘ (golongan, LSM pro-asing, intelejen asing, negara asing, dan kelompok BSH) yang terlibat atau memiliki kepentingan di Pemilu dan Pilpres 2014. Sehingga jalan dan metode yang akan dilancarkan adalah berupa pemanfaatan basis suporter melalui pendekatan figur penting dalam kelompok seporter tersebut, bisa juga misalnya melalui bantuan dana dan kebutuhan terhadap kelompok suporter, misalnya memfasilitasi terhadap transportasi atau perjalanan para kelompok suporter untuk menonton pertandingan ke daerah-daerah lain, dan bantuan-bantuan pendanaan lainya.

Keempat, masih berbicara mengenai figur ARB. Pengusaha juga dapat mencari ketenaran melalui kepemilikan klub sepakbola. Setidaknya keluarga Bakrie memiliki beberapa klub sepak bola baik di dalam maupun di luar negeri diantaranya adalah Pelita Jaya, klub sepakbola yang banyak dihuni pemain berkelas salah satunya pemain Malaysia Safee Sali, Brisbane Roar FC klub sepak bola asal negeri Kangguru ini sahamnya telah dikuasai penuh oleh keluarga Bakrie, CS Vise Belgia yang telah dikuasai mayoritas sahamnya oleh keluraga Bakrie, dan Deportivo Indonesia atau yang sebelumnya bernama Sociedad Anónima Deportiva (SAD) Indonesia merupakan salah satu wadah bagi para talenta muda dalam menempa diri menjadi pemain profesional, awalnya program pembinaan usia muda ini berada di bawah PSSI. Namun seiring perjalanan waktu, Deportivo Indonesia kini dikelola oleh perusahaan Pelita Jaya Cronus milik keluarga Bakrie. Pengusaha lain adalah Erick Thohir yang membeli saham sepak bola DC United sebuah klub MLS Amerika Serikat, dan dapat ketahui bahwa Erick Thohir, yang memimpin PT Visi Media Asia, adalah induk perusahaan media Bakrie. Lantas pertanyaan yang muncul adalah, apakah tindakan yang dilakukan oleh Keluarga Bakrie untuk gencar memiliki Klub-Klub Sepakbola aapakah sekedar hobi semata? Mengingat keluarga Bakrie sangat mencintai olahrga sepakbola, atau murni bisnis? Atau ada kepentingan yang lain? Kalau memang sekedar hobi, apakah benar tidak ada niatan untuk memproleh keuntungan? Kalau memang murni kepentingan bisnis, hal ini tidak sejalan dengan prinsip bisnis karena tidak sedikit pengusaha yang masih belum memperoleh keuntungan dari pembelian saham-saham klub sepakbola tapi disisi yang lain mereka memperoleh ketenaran yang berlimpah karena berita sepakbola menjadi salah satu pemberitaan yang banyak dibaca oleh publik. Dengan begitu pengusaha-pengusaha ini bisa naik kelas sehingga memudahkan mereka dalam mencari kreditur. Di sisi yang lain, mereka yang menggunakan cara in adalahi untuk popularitas tanpa berharap lebih pada keuntungan materi tapi berharap keuntungan pada kemasyuran dan popularitas. Di dunia misalnya, Syaikh Mansur pemilik Manchester City dulunya publik tidak banyak mengenal pengusaha yang satu ini tapi pasca pembelian Manchester City yang dulunya milik Thaksin Sinawatra, Syaikh Mansur betul-betul menjadi sangat terkenal. Kemudian Abrahamovic pengusaha kaya raya asal Rusia yang banyak menghabiskan waktu dikapal pesiar ini tidaklah diketahui publik khususnya yang tidak suka membaca artikel bisnis tapi dengan memiliki Chelsea dia menjadi super terkenal. Kemudian Tony Fernandes pengusaha visioner asal Malaysia pemilik AirAsia ini menjadi terkenal dikancah eropa pasca pembelian 66% saham QPR dari bos formula 1 Bernie Ecclestone. Selanjutnya ada Qatar Investment Authority (QIA) yang membeli saham klub sepakbola asal Perancis PSG, Silvio Berlusconi yang terkenal gila perempuan ini adalah pemilik Ac Milan, kemudian Amancio Ortega orang terkaya Spanyol dan berkali-kali masuk 10 besar Forbes manusia terkaya adalah pemilik klub sepak bola Deportivo La Corona. Kemudian Paul Allen teman Bill Gates dalam mendirikan Microsoft adalah pemilik klub sepak bola Seattle Sounders.

Terlihat dari data pengusaha diatas, mebuktikan tidak sedikit mereka yang awalnya adalah pengusaha yang cukup mapan, namun dengan kepemilikan klub sepakbola mereka lebih tenar dan popularitas mereka lebih terangkat ke permukaan sehingga masayarakat luas lebih mngenal mereka. Nah, tanpa dipungkiri jalan inilah yang akan diikuti ARB dalam ajang Pilpres 2014 mendatang, ketenaran dan popularitas menjadi modal penting untuk mengenalkan sosok ARB sebagai Capres. Sekali lagi dengan melihat kegemaran masyararakat terhadap sepak bola cukup besar. Langkah yang diambil ARB ini mirip apa yang dilakukan oleh Silvio Berlusconi, mantan Perdana Menteri Italia sekaligus pemilik klub bintang AC Milan, dan dia juga pemilik sebuah perusahaan media raksasa di Italia. Kalau Silvio Berlusconi, mempunyai Mediaset, terdiri dari tiga stasiun televisi nasional yang ditonton 45% penonton TV Italia, ARB punya media VIVA seperti Viva.com, TV One, ANTV dan Goal.com. Sebelum menjabat sebagai Perdana Menteri di tahun 1994,[3] Silvio Berlusconi telah memiliki klub sepak bola ternama, AC Milan di tahun 1986. Nah, begitu juga ARB sebelum dia berencana memenangkan Pilpres 2014 mendatang dia telah memiliki beberapa klub sepakbola yang telah dijelaskan diatas sebagai ajang pencitraan dan dan mempeoleh ketenaran.

Kelima, pemberitaan konflik bola oleh jaringan VIVA yang dikuasai oleh keluarga Bakri memberikan pengalaman sekaligus pelajaran bahwa kelompok yang berafiliasi dengan NDB sangat intens memanfaatkan teori propaganda dan men-filter setiap informasi yang dilepaskan ke publik. Menurut Herman dan Chomsky (2002), media dilihat sebagai agen yang mempropagandakan nilai-nilai tertentu untuk didesakkan kepada publik. Pada model propaganda ini, fokusnya adalah pada perbedaan antara kekayaan dan kekuatan juga berbagai efek media massa yang bersifat multilevel dari berbagai kepentingan dan pilihan.

Sangatlah picik bila kita menafikan hubungan linier antara Bakri, Nirwan Bakrie, VIVA Groups, Golkar, KPSI. Dalam simbiosis multiplier efek social, politik, dan ekonomi para penganut kepentingan golongan, penguasaan pikiran masyarakat menjadi upaya yang cukup mendesak untuk dilaksanakan. Sepakbola sebagai variable pengikut memiliki posisi cukup vital dengan karakteristik banyak digemari masyarakat, sebagian besar tidak well educated dan fanatisme semu yang mengandalkan primordialitas semata.

Pemilihan sudut pandang berita, nara sumber dan upaya manipulasi informasi yang lebih pada “kontrol terencana” pemegang kepentingan pada media VIVA Groups adalah strategi untuk melesakan cara berpikir dan menguasai arah sikap masyarakat pecinta bola. Pada gilirannya, nilai-nilai jurnalisme dan independensi media menjadi barang mewah dan langka. VIVA Groups sebagai media publik lebih banyak menyiarkan opini sepihak dibandingkan menyampaikan fakta pada khalayak.

Sangatlah tidak bijak menyikapi konflik sepakbola Indonesia hanya dari sisi emosi tanpa mengaktifkan anugerah kognisi. Secara structural, peta penggemar bola memang sangat menguntungkan implementasi pemakai teori propaganda. Dari sini peran cerdik cendikia sangat diperlukan untuk memberikan pencerahan pada mereka yang teragitasi informasi sesat dan sengaja disesatkan.

Terakhir, sepakbola sebagai media propaganda juga mampu dilakukan melalui pengadaan atau pembentukan acara kompetisi atau kejuaraan sepakbola yang disponsori oleh pihak-pihak kepentingan, hal ini dilakukan dalam upaya mencari simpati rakyat. Misalnya kompetisi sepakbola antar kampung yang disponsori oleh Partai Politik tertentu, biasanya diadakan menjelang Pemilu, atau yang digagas perusahaan media tertentu, atau juga melalui program atau kegiatan pemerintah, dengan maksud mencari keprcayaan masyarakat bahwa pemerintah yang sedang berkuasa saat ini dan diusung oleh partai politik tertentu telah mampu menjalankan programnya dengan baik, sehingga memberi peluang di Pemilu selanjutnya mendapat suara yang lebih banyak.

Sangat dinantikan di 2014 mendatang, bagaimana akhirnya framing sepakbola tersebut mampu berbuat banyak sebagai media propaganda dalam usaha mencari basis suara. Soccer is not politics.


[2] Lihat laman web: http://post.aksisoft.com/p/id/10356#.UUYIQRej2Xw. 19 Maret 2013, Pukul 01.30 WIB.

[3] Dapat diketahui Silvio Berlusconi menjabat sebagai Perdana Menteri untuk pertama kalinya selama tujuh bulan (10 Mei 1994-17 Januari 1995), namun pada 2001, ia kembali diangkat ke dalam jabatan itu. Sejak itu, pemerintahan Berlusconi adalah yang terlama dalam sejarah republik Italia. Pada 20 April 2005, Berlusconi menyerahkan surat pengunduran diri pemerintahannya setelah kalah dalam sejumlah pemilihan regional dan masalah-masalah internal dalam koalisinya. Pada 23 April 2005, ia membentuk pemerintahan baru tanpa banyak perubahan. Ia terpilih kembali tahun 2008 sampai ia mengundurkan diri dan digantikan oleh Mario Monti pada tanggal 16 November 2011.

Iklan

One comment on “Sepakbola sebagai Media Propaganda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s