Kaset sebagai Media Strategi Imam Khumaini dalam Menjatuhkan Rezim Syah Iran

kaset khomeniPendahuluan

Sebelum runtuhnya Pemerintahan Syah Iran pada Tahun 1979, ada sosok penting yang dianggap paling bersaja membangkitkan semangat masyarakat Iran pada saat itu, sehingga munculah tahun yang paling bersejarah bagi rakyat Iran hingga saat ini, yaitu Revolusi Islam Iran, sosok itu tidak lain dan tidak bukan adalah Imam Keagungan warga Iran, Imam Khumaini.

Syah Iran sendiri adalah bentuk pemerintahan monarki yang lebih dikenal dengan pemerintahan Dinasti Pahlevi yang dimulai sejak tahun 1925. Dinasti ini didirikan oleh Reza Shah Pahlevi yang sekaligus menjadi raja pertamanya. Maka di masa pemerintahan dinasti inilah nama Persia diganti menjadi Iran (yang berarti “bangsa Arya”) pada tahun 1935.

Sebelum masa Dinasti Pahlevi muncul, telah ada Dinasti Safawi (1501-1722 M) sebagai peletak dasar bagi negara Persia Modern, dan antara tahun 1722 hingga 1779 masehi, Persia berturut-turut berada di bawah kekuasaan Kaum Sunni Afghan (1722-1736), Nader Shah Afshar (1736-1747), Dinasti Zand (1750-1794) (yang pada kesemuanya itu disebut masa transisi), dan yang terakhir Dinasti Qajar (1796-1925 M). Bahkan sebelumnya telah ada masa Praislam yang dikuasai oleh Dinasti Sassanid yang memerintah dari tahun 22 Masehi hingga abad ketujuh (pada masa ini agama Zoroaster sebagai agama resmi negara Persia), Kerajaan Parthian (memerintah hingga 500 Tahun), Dinasti Seleucid yang didirikan oleh Iskandar Agung (331-247 SM), Dinasti Achaemedi yang dipimpin Cyrus Agung (550-330 SM).

Mengenal Sosok Imam Khumaini

Imam Khumaini lahir pada tanggal 9 Nopember 1902 di Kota Khomein 300 kilometer dari Taheran. Setelah setahun kelahirannya ayah kandung beliau dibunuh oleh agen Syah Iran yang berkuasa pada waktu itu. Pada usia 12 beliau berangkat ke kota Qom untuk belajar agama Islam. Di kota inilah beliau menghabiskan masa remajanya. Pada usia 40 tahun untuk pertama kalinya beliau menerbitkan buku yang berjudul Kash al Asrar, beberapa tahun kemudia terbit pula buku beliau Towzihol Masa’el (Penjelasan Berbagai Masalah). Pada usia 60 tahun barulah beliau diberi gelar Ayatullah al Uzma, sehinngga beliau bernama Imam Ayatullah Rohullah Khoemeni. Setahun kemudian beliau mengumumkan perang terhadap Syah Iran, dan inilah yang membuat beliau akhirnya ditahan di Taheran.

Awal Pergolakan

Di bawah Dinasti Pahlevi, kepemimpinan Reza Shah mulai melakukan perubahan di segala bidang, salah satunya adalah di bidang hukum, misalnya mulai meberlakukan sistem hukum ala Prancis, yang tentu saja mendapat tentangan keras dari para ulama Islam pada saat itu. Selain itu Reza Shah juga dikenal sebagai pemimpin yang otoriter. Tidak cukup sampai di situ, setelah sepeninggalan beliau, mulai tahun 1941 negara Iran menjadi negara boneka di bawah kendali Inggris, Rusia dan Amerika Serikat. Pada masa itu pula mereka yang mengangkat langsung pengganti Reza Shah yaitu anaknya, Mohammad Reza Pahlevi yang masih sangat muda (20 tahun).

Selama berkuasa, shah dikelilingi oleh para penjilat dan koruptor, dan dipenuhi dengan para propaganda dan pembohong dari penjilat tersebut, pada masa inilah Iran selalu didalam bayang-bayang dan kekuasaan barat.

Ketidakpuasaan akan kepemimpinan Mohammad Reza Pahlevi datang dari beberapa kalangan terutama kaum terpelajar seperti ulama dan mahasiswa. Hingga akhirnya puncak kemarahan masyarakat muncul kepermukaan pada tahun 1971, yang pada saat itu Raja bersama keluarga dan pejabat pemerintahn lainnya mengadakan pesta besar-besaran untuk memperingati ulang tahun ke-2.500 berdirinya kerajaan Persia, ke-50 tahun berdirinya Dinasti Pahlevi, ulang tahun ke-30 naiknya Mohammad Reza Pahlevi ke tahta, dan ulang tahun ke-10 reformasi putih, yang semua menelan biaya 300 juta dolar AS, sedangkan pendapatan perkapita rakyat Iran pada waktu 500 dolar AS per tahun.

Hal inilah yang membuat Imam Khumaini waktu itu geram, ia menganggap Shah telah benar-benar mabuk kekuasaan. Dalam berbagai kesempatan pidato dan kuliahnya, juga sebenarnya Imam Khumaini tidak setuju akan adanya sistem pemerintahan monarki yang dianggap telah menyimpang dari sistem pemerintahan Islam.[1] Bagi Imam Khumaini, yang awalnya cuma “suara lirih di hutan belantara” Shah dianggap secara sengaja telah menghilangkan dan tidak peduli kepada pengaruh Islam terhadap sejarah Iran.

Pengaruh Imam Khumaini dan Masa Pergolakan (1963-1979)

Awalnya masayarakat Iran tidak terlalu mengenal siapa sosok Imam Khumaini yang bergelar Ayatullah al-Uzma tersebut, hanya sebagian orang saja, terutama dari kalangan mahasiswa. Di kalangan mahasiswa Imam Khumaini dikenal sebagai seorang dosen yang idealis, berpendirian kuat dan mempunyai semangat yang tinggi dalam mengajarkan konsep dan bentuk pemerintahan Islam. Sedangkan pada kalangan masyarakat pada umumnya beliau adalah sosok ilmuan atau ulama yang sederhana dan memiliki visi yang jelas.

Pada awalnya, Imam Khumaini adalah seorang ulama dan akademisi yang sangat menentang sistem monarki yang dijalankan di negara Islam, seperti pada masa dinasti Bani Ummayah[2] dan Bani Abbasiyah[3], dan juga yang diberlakukan dinegaranya Iran dibawah kendali Shah pada saat itu, yang menyebabkan rakyat menjadi tentindas dan terampas haknya. Kejelasan pidato dan dan gaya penyampaian beliau yang logis dan mudah dicerna membuat seorang mendengar menjadi bersemangat dan merasa yakin.

Hingga pada akhirnya di tahun 1963 beliau secara terang-terangan menyatakan perang terhadap Syah Iran, yang akhirnya membuat dia dipenjara. Namun hal in malah mengundang simpati masyarkat Iran, seorang “imam tua” yang awalnya tidak terlau dikenal masyarakat, dengan tiba-tiba rakyat iran malah mencintai dan mempercayainya. Rakyat akhirnya mulai sadar akan keserakahan dan keburukan pemerintah Syah Iran selama ini. dan akhirnya para pendukungnya pun berdemonstrasi menuntut kebebasan beliau.

Pada tahun 1964 beliau keluar dari penjara, lalu oleh penguasa diusir dari Iran. Beliau tinggal di Turki, dan sempat tinggal di Izmir, Ankara, Istanbul, Busrah, dan Najaf (Irak). Dari kota inilah Khumaini melancarkan serangan melalui pidato-pidato kerasnya untuk menentang sistem kerajaan di Iran yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Berkat pengaruh kharismatik dan pidato beliau, rakyat Iran seketika juga marah akan pemerintahn Shah saat itu, akhirnya terjadilah demonstrasi besar-besaran yang berwal dari kota suci Qom (1978) yang merupakan awal pergolakan panjang yang meruntuhkan seluruh sendi kekuasaan Shah, di tahun itu pula (yang di masa pengasingannnya) Imam Khumaini berangkat ke Prancis dan mengumumkan rencananya untuk mendirikan Pemerintahan Islam Iran.

Pergolakan tersebut mencapai puncaknya awal tahun 1979, di mana dengan perjuang segenap rakyat Iran[4], bulan Januari Shah Mohammad Reza Pahlevi beserta keluarga meninggalkan Iran untuk selama-lamanya. Februari 1979 adalah saat yang bersejarah bagi Iran, karena pada waktu itu bersamaan dengan berakhirnya kekuasan shah, berakhirnya pula sistem kerajaan di Iran.

Hanya 2 (dua) minggu setelah Shah terusir dari negerinya, Khumaini akhirnya kembali lagi ke tanah airnya dan dielu-elukan sebagian besar masayarakat Iran, lalu beliau mendirikan Dewan Revolusi Iran. Di bawah kepemimpinan beliaulah akhirnya, Iran menjadi sebuah negara republik dengan nama resmi Republik Islam Iran hingga saat ini.

Media Strategi

Membangkitkan semangat masyarakat Iran bukanlah semudah pada jaman modern saat ini, mengingat perkembangan teknologi informasi dan transportasi masih sangat minim pada saat itu. Tidaklah dibayangkan bahwa sulitnya Imam Khumaini dalam melancarkan strategi untuk meningatkan masyarakat akan kekejaman pemerintahan monarki Syah Iran dan dalam membangun fondasi pemikiran masyarakat Iran tentang pemerintahan Islam yang sesungguhnya. Dan juga mengingat faktor jarak yang jauh dan wilayah yang berbeda antara Imam Khumaini yang sedang berada pada masa pengasingan dan masyarakat Iran yang berada di negerinya. Namun ternyata ada media yang berperan besar pada saat itu yang dapat menyampaikan pesan dan pidato-pidato Khumaini, yaitu yang direkam pada sebuah “kaset Tape Radio”.

Pada saat itu masyarakat Iran telah banyak mengonsumsi Tape Radio sebagai kebutuhan sekunder sehari-hari, jadi tidak heran trend masyarakat Iran pada waktu dengan diperdengarkan oleh kaset yang berisi rekaman seorang yang mereka cintai, mampu membakar semangat warga Iran. Kaset-kaset yang berisi rekaman pidato Imam Khumaini ini disebar di seluruh wilayah Iran, sehingga akhirnya sebagian besar masayarakat Iran memiliki pandangan dan tujuan yang sama dalam menjatuhkan Rezim Syah Iran yang telah berkuasa selama 53 tahun.


[1] Lihat: Imam Khumaini, 2010, Pemikiran Politik Islam dalam Pemerintahan, Shadra Press, Jakarta, hal. 50

[2] Bani Ummayah: adalah sebuah dinasti yang berkuasa di Damaskus dari tahun 41 H hingga 132 H dan mengubah kekhalifaan pemerintahan ke dalam bentuk turun temurun, yang diawali oleh Mu’awiyyah bin Abi Sufyan.

[3] Bani Abbasiyah: sebuah dinasti yang menggantikan dinasti Ummayah dan mendirikan pemerintahan di Baghdad. Dan dinasti ini musnah setelah ditaklukan oleh Mongol pada tahun 656 H

[4] Pada akhirnya pasukan bersenjata yang bertujuan menghalang gerak demonstari masyarkat malah balik mendukung masyarakat dan bersama-sam menggulinkan Pemerintahan Syah Iran.

 

Daftar Pustaka

Khumaini, Imam. 2010. Pemikiran Politik Islam dalam Pemerintahan: Konsep Wilayah Faqih Sebagai Epistimologi Pemerintahan Islam. Jakarta: Shadra Press

Labib, Muhsin, dkk. 2006. Ahmadinejad: David di Tengah Angkara Goliath Dunia. Jakarta: Hikmah.

Syafi’i, Inu K. dan Azikin, Andi. 2007. Perbandingan Pemerintahan. Bandung: Refika Aditama

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s