Kemenangan Sosok Figur Jokowi di Pilgub DKI

jokowi-metalKemenangan sebuah figur politik dan bukan alat kendaraannya yaitu partai politik menunjukkan bahwa rakyat sudah lagi tidak percaya dengan partai politik. Warga Jakarta melihat Jokowi karena dia adalah sosok pemimpin yang berhasil mensejahterakan rakyat Solo melalui inovasi-inovasi kebijakan yang dilakukannya, dan bukan karena dia dari Partai PDIP, yang kalau dilihat di kaca mata masyarakat PDIP termasuk Partai yang termasuk kotor. Reputasi dan prestasinya bisa terlihat, ketika rakyat memandang dia adalah pemimpin yang pro rakyat, misalnya dengan mengembangkan Pasar Tradisional, Mobil Esemka, serta kerjanya yang hobi turun ke jalan langsung melihat warganya.

Sikap sederhana dan berani yang ditunjukan Jokowi menjadi landasan penting bagi Rakyat Jakarta mempercayakan sosok beliau untuk memimpin Jakarta di priode selanjutnya. Sedangkan Foke (panggilan akrab Fauzi Bowo) yang diusung oleh koalisi partai-partai besar, seperti Demokrat dan Golkar sama sekali tidak berkutik dihadapan Jokowi. Hal ini disebabkan karena Rakyat sudah lagi tidak percaya dengan sosok Foke yang telah gagal memimpin Jakarta di priode sebelumnya. Jokowi-Ahok sendiri unggul dengan meraup 65.143 suara suara atau 53,28 persen sementara pesaingnya, pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) hanya mampu meraup 46,72 persen (surapembaharuan.com, 20/9/2012). Bila dikalkulasikan menurut koalisi partai maka bisa dibilang suara Foke lebih besar dibandingkan Jokowi yang hanya diusung oleh dua Partai, yaitu PDIP dan Gerindra. Namun hal sebaliknya terjadi.

Sebab lain adalah Identitas kepartaian rendah, makanya orang memilih berdasarkan pribadi bukan atas instruksi partai. Bisa disimpulkan bahwa partai tidak terlalu berperan, yang banyak terjadi adalah personaliti yang diukur publik dan lebih signifikan pengaruhnya. Dan juga yang dalam berperan dalam pencitraan sang figur adalah media yang selalu gencar mempertontonkan salah satu kandidat tentang kebrhasilan-kebrhasilannya, dalam hal ini jelas yang diuntungkan Jokowi, karena ia telah berhasil memimpin Solo dengan sikapnya yang sederhana, sedangkan sorot media yang ditujukan kepada Foke lebih kepada kondisi Jakarta di priode kekuasaan dia sebelumnya, dengan berbagai masalah klasik di dalamnya seperti, kemacetan dan banjir.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s