Proses Negosiasi dan Lobi Terhadap Penggusuran PKL UB

Aktor

Pihak I – BEM tiap Fakultas, EM-UB, LPM tiap Fakultas.

Pihak II – Para PKL.

Pihak II – PR II dan PR III perwakilan pihak rektorat dan PD II dan PD III dari seluruh fakultas.

Kepentingan

Pihak I – Pembatalan Penggusuran PKL UB (mengangkat nasib para PKL)

Pihak II – Pembatalan Penggusuran dan Relokasi lapak PKL

Pihak II – Penggusuran PKL UB (menciptakan keteraturan dalam lingkungan kampus)

Alternatif Pilihan

  • Relokasi Tempat Jualan PKL
  • mendirikan food center

Solusi

Pembinaan para PKL melalui LPM (lembaga Pengabdian Masyarakat) dan membuat KTA yang tujuannya agar jumlah PKL tidak semakin marak di lingkungan UB.

Goal Negotiations

Relokasi Lapak Jualan PKL

Narasi

Bulan Maret yang lalu gabungan elemen mahasiswa intra kampus yang terdiri dari BEM tiap Fakultas, EM-UB, LPM tiap Fakultas, dan para sahabat PKL mendatangi gedung rektoral lantai 8.

Mereka akan berdiaolog terkait surat edaran Penggusuran PKL dari Universitas Brawijaya.  Dialog tidak hanya dihadiri oleh beberapa gabungan elemen mahasiswa intra kampus, namun ada pula beberapa undangan yaitu PD II dan PD III dari seluruh fakultas dan juga bapak PR II dan PR III perwakilan pihak rektorat.

Dialog tersebut dibuka oleh Ainurrasjid, selaku PR III. Dalam sambutannya Pak Ainur menyampaikan bahwa Universitas Brawiaya melalui LPM (lembaga Pengabdian Masyarakat) telah membina para PKL sekitar  10-15 tahun yang lalu. Dengan tujuan menciptakan keteraturan dalam lingkungan kampus dan sebagai wadah bagi para PKL. Seiring berjalannya waktu, dibuatlah KTA yang tujuannya agar jumlah PKL tidak semakin marak di lingkungan UB.

Dalam kesempatan tersebut, Pak Warkum selaku PR II memberikan  penjelasan bahwa saat ini Brawiajaya sedang  dalam masa transisi untuk menjadi otonomi sebagian atau tidak otonomi. “Tergantung kita mau milih yang mana,” ujarnya.  Selain itu dia juga mengungkapakan bahwa UB sudah memiliki konsep untuk pembenahan sarana dan pra sarana guna memenuhi standard dari kampus.

PR II juga menambahkan, “alasan penggusuran PKL yaitu, UB mau mendirikan food center pada awal tahun 2012 yang akan disebar di setiap titik di UB.  Makanan harus higienis dan tempatnya harus tetutup agar tidak mengganggu keindahan.”

PKl di Universitas Brawijaya digolongngkan menjadi empat. itu. Pertama, golongan di bawah pembinaan LPM.Kedua, golongan di bawah pembinaan tapi berkambang (pindahtangan, red). Ketiga, PKL yang izinnya sudah habis tapi tetap berjualan. Dan Keempat, PKL pendatang baru. “Yang akan saya perjuangkan yaitu PKL golongan satu dan dua secara tertutup selama masa jeda. Sedangakan penangana golongan tiga dan keempat  ditanyakan ke forum.

Dalam forum tersebut, sahabat PKL juga meminta waktu untuk menyampaikan konsep penataan PKL melauislide. Di situ ditanyangkan bagaiman pentaan PKL yang rapi dan bersih. Yaitu dengan cara penyeragaman Tenda, Meja, dan kursi yang bisa dibongkar pasang serta tempat cuci piring yang tertutup.

Namun proses dialog tersebut tidak sampai disini, Akhir dari forum tersebut tetap tidak membuahkan hasil. PKL tetap belum boleh berjulan selama masa jedah.  Sehingga Nasib PKL diputuskan pada hari tiga hari kemudian, yaitu dengan memindah area tau tempat dagang PKL yang sebelumnya berada di sekitar depan UKM, sebelah utara Student Center dan sebelah timur Fakultas Ekonomi dipindahkan di wilayah pojok timur laut dari universitas Brawijaya, sebelah timur asrama baru UB dan UKM dengan area sekitar 10 x 25 Meter Persegi, sehingga emang sulit terlihat karena sangat menjorok kedalam dan tersembunyi dari keramaian mahasiswa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s