Di Balik Penembakan di Aceh

Salak senapan tak kunjung berhenti. Walau tak sesering di masa konflik Aceh dulu, namun dilihat dari korbannya, tetap saja peluru yang keluar dari ujung senapan tetap mengincar orang-orang kecil yang kerap tidak paham politik. Bahkan tak pernah bersentuhan sama sekali dengan berbagai polemik di negeri ini.

Namun yang pasti, dilihat dari korban yang telah berjatuhan, yang dijadikan tumbal ataupun untuk alasan tertentu tetaplah orang-orang kecil, baik kecil secara ekonomi maupun kecil bila dilihat dari kapasitas politik. Paling banter, para korban hanyalah pemilik sah suara bila Pemilu di gelar di negeri ini.

Pilkada Aceh merupakan pintu masuk bagi mereka yang berkepentingan untuk menebar teror di propinsi paling barat ini. Di luar eks kombatan yang dibunuh, sejak 4 Desember 2011 sampai dengan sekarang, sedikitnya telah terjadi empat kali pemberondongan brutal dengan menggunakan senjata api yang telah menewaskan 8 orang warga kelas bawah. Ironisnya lagi, yang menjadi sasaran adalah mereka yang bekerja sebagai buruh kasar dan berasal dari pulau seberang yang bernama Jawa.

Ada apa dengan Jawa? Mengapa mereka yang menjadi sasaran? Mengapa harus buruh kasar yang tidak punya sangkut paut dengan politik? Mengapa pelakunya tak kunjung di tangkap? Mengapa bukan koruptor yang di tembak? Semua pertanyaan itu bersarang di dada dan tak mampu untuk muksa dan menjadi sebuah tanya yang punya kunci jawaban yang tepat sekali.

Aksi penembakan yang terjadi di Aceh Utara, Bireun dan Banda Aceh, ternyata mendapat perhatian serius berbagai pihak bahkan aksi penembakan yang belum terindefikasi tersebut dikecam semua pihak. Bagaimana tidak, aksi yang terjadi itu merupakan olahan dari kelompok-kelompok tertentu yang tentu mencoba menganggu perdamaian yang saat ini sedang dijaga bersama di serambi mekkah.

Dari beberapa korban penembakan tersebut dapat kita lihat bahwa hampir 99% adalah korban berasal dari luar Aceh, seperti korban penembakan di PT. Satya Agung Aceh Utara merupakan asal Sumatra Utara dan diduga etnis Jawa, 3 korban penembakan di Bireun tepat di malam pergantian tahun 2011 juga asal luar Aceh dan diduga etnis Jawa.

Oleh karena itu bisa saja menimbulkan berbagai persepsi dikalangan masyarakat terhadap aksi penembakan tersebut, baik itu dugaan kepentingan politik, menciptakan konflik horizontal antara Aceh dan Etnis Jawa, pihak-pihak tidak senang dengan perdamaian, ingin Aceh ini konflik lagi sehingga mereka dapat mengambil keuntungan, serta dugaan kontra intelijen, termasuk dugaan peran intelijen.

Menurut analis politik Aceh, Afifuddin Acal, ada konspirasi di balik seluruh tragedi berdarah di Aceh selama ini. Tragedi penembakan pekerja bangunan di Aneuk Galong pada tanggal 5 Februaru 2011 sekitar jam 19.30 semakin menambah bukti ada konspirasi politik. Motif kekerasan terjadi saat ini hampir sama ketika Aceh masih dilanda konflik beberapa tahun silam.[1]

Aksi kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini di Aceh tergolong terorganisir, terencana dan sistematis. Hal ini terlihat dari setiap aksi kekerasan bersenjata sangat rapi modus operandinya. Penembakan akhir tahun 2011 di Ulee Kareng, Bireuen, dan Aceh Utara hanya berselang beberapa menit. Modelnya sama. Ini semakin membuktikan dan meyakinkan ada konspirasi di balik rangkaian aksi kekerasan bersenjata di Aceh. Tak bisa dipungkiri, kekerasan di aceh saat ini bukan lagi katagori kriminal biasa, tetapi sudah ada mafia konflik yang sedang mengobok-obok aceh.

Sementara Wakil Ketua Komisi III DPR dari Fraksi PKS, Nasir Djamil mengutuk peristiwa penembakkan yang menewaskan tiga orang di Bireun dan satu orang di Banda Aceh. Menurutnya, peristiwa tersebut untuk memperkeruh situasi Aceh.[2]

Dijelaskannya, peristiwa tersebut sangat bermuatan politis. Pasalnya, korban penembakkan itu orang Jawa. Selain itu, lanjut Nasir, banyak pihak yang berkepentingan di Aceh.

“Jelang Pemilu ini banyak sekali untuk mengambil kepentingan di Aceh. Saya kira ini salah satu jalan yang dilakukan untuk mengambil kepentingan itu,” jelas anggota DPR asal Aceh itu.

Kecurigaan muncul lantaran target penembakan adalah etnis Jawa yang semuanya pekerja kasar. Menurut dia, pekerja kasar dipilih dengan sengaha untuk memantik simpati dan emosi orang-orang Jawa lainnya.

Nasir juga menampik kemungkinan teror ini berlatarbelakang kecemburuan sosial seperti diungkapkan Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto.[3] “Enggak betul ada kecemburuan sosial antara etnis tertentu di Aceh,” katanya.

Nasir yang juga berasal dari Aceh curiga, ada skenario pihak tertentu yang ingin menciptakan konflik horizontal di Aceh dengan membenturkan orang Aceh dengan Jawa. Padahal, kata dia, belum pernah ada sejarah konflik etnis di provinsi tersebut. Bahkan, para pendatang dari Jawa bisa hidup dengan damai di daerah yang khas Jawa, seperti kampung Jawa, Sidodadi, dan Sidorejo.

Namun yang harus diingat dan sepertinya Nasir juga lupa, bahwa secara kontekstual telah banyak terjadi aksi konflik etnis yang menyebabkan aetnis jawa terdesak untuk meninggalkan daerah aceh menuju ke berbagai kabupaten atau kota di Sumatera Utara seperti kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kota Medan dan yang terbanyak adalah kabupaten Langkat, karena di kabupaten ini dekat perbatasan anatar Aceh Timur dengan Besitang (Kab. Langkat). Memang di Aceh ada daerah atau kampung Jawa seperti kebanyakan di daerah Kuala Simpang atau Aceh Timur karena memang di daerah tersebut mayoritas etnis jawa. Namun ketika sudah berada di Aceh Selatan, Aceh Besar, Aceh Utara dan di daerah Aceh lainnya yang etnis jawa sebagai pihak minoritas, maka penindasan terhadap etnis jawa kerap dilakukan.

Mayoritas etnis Aceh kalau ditanya apakah mereka dendam atau cemburu dengan etnis pasti mereka menjawab ini bukanlah akibat rasa cemburu ataupun persaingan antar etnis. Kami tidak membenci Jawa. Kami sejak zaman dahulu menerima pendatang dengan tangan terbuka.[4]

Pada intinya rakyat aceh menolak bahwa mereka cemburu dan dendam kepada etnis jawa dan bahwa kasus ini dianggap sebagai alat pengadu domba terhadap isu etnisitas serta merupakan permainan pemerintah dan aparat keamanan semata. Aceh sedang digiring. Inilah kenyataannya. Setidaknya ada empat asumsi dan alasan sebagai indikator kuat yang terkait kasus penembakan ini.

Pertama, dilihat dari lokasi kejadian atas beberapa kasus penembakan, dilakukan di daerah yang etnis Jawa-nya sedikit. Bireuen, Aceh Utara, Lhokseumawe dan Aceh Besar merupakan kawasan yang minoritas pendatang dari pulau seberang. Bila yang disasar adalah “Jawa” karena kecemburuan sosial, maka potensi kejadian pasti lebih besar di Aceh Tamiang, Langsa, Aceh Tengah, Bener Meriah, Nagan Raya dan beberapa kabupaten lain. Sebab di tempat-tempat itu, secara kuantitas “pendatang” lebih banyak.

Kedua, dari serangkaian kasus, tak satupun pelakunya dapat ditangkap oleh polisi. Hal ini berbanding terbalik dengan terorisme. Dalam waktu sekejap tempat pelatihan teroris di Bukit Jalin Aceh Besar dapat dihancurkan. Bilapun ada “pelaku” yang berhasil ditangkap seperti kasus Aceh Utara, namun siapa dan dari kelompok apa mereka, tetap kabur sampai hari ini.

Ketiga, uji balistik terhadap barang bukti sampai sekarang tidak mampu menjawab dari mana senjata yang digunakan itu berasal. Padahal jelas sekali bahwa senjata api yang digunakan oleh pelaku bukan dari senpi rakitan. Kasus pembunuhan Saiful Cage di Bireuen, sampai sekarang uji balistik tidak menjawab dari mana sumber senjata, tahun berapa dirakit, peluru tahun berapa, agen senjata siapa, dan lain-lain. Malah gaung kasus itu sendiri tidak terdengar lagi. Entah apa hasil kerja tim yang dibentuk Polda Aceh?

Keempat, rata-rata korban yang tewas setelah peluru menembus perut dan dada. Bila ditilik dengan cermat, hanya orang-orang profesional yang mampu menembak dengan tepat sekali di “titik kematian”. Kemudian pelaku mampu menghilangkan diri dalam sekejap di antara kerumunan masyarakat. Razia yang dilakukan oleh polisi beberapa saat setelah kejadian tidak mampu menghasilkan apa-apa selain rasa takut masyarakat karena sikap polisi yang tegang dan nampak tak bersahabat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s