Hakekat Pemberdayaan Masyarakat

Istilah pemberdayaan masyarakat (empowerment) adalah sebuah istilah yang sudah familier bagi kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), akademisi, organisasi sosial kemasyarakatan bahkan kalangan pemerintahan. Istilah pemberdayaan ini muncul hampir bersamaan dengan adanya kesadaran akan perlunya partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Hal ini diasumsikan bahwa tanpa adanya partisipasi lmasyarakat niscaya pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah tidak .,akan memperoleh kemajuan yang berarti. Adanya gagasan bahwa partisaipasi masyarakat itu seyogyanya merefleksikan kemandirian bukanlah tanpa alasan. Tanpa adnya kemandirian maka suatu bentuk partisipasi masyarakat itu tidak lain hanya sebuah mobilisasi belaka. Dalam tataran konseptual pemberdayaan terkait erat dengan proses tranformasi sosial, ekonomi, politik dan budaya (Ahmad Mahmudi, 2002:3). Pemberdayaan bisa dimaknai sebagai proses penumbuhan kekuasaan dan kemampuan diri dari kelompok masyarakat yang miskin lemah, terpinggirkan dan tertindas. Melalui proses pemberdayan diasumsikan bahwa kelompok sosial masyarakat terbawah sekalipun bisa saja terangkat dan muncul menjadi bagian masyarakat menengah dan atas. Hal ini bisa terjadi kalau saja mereka diberi kesempatan dan mendapat bantuan dan difasilitasi pihak lain yang punya komitmen untuk itu. Kelompok miskin di suatu pedesaan misalnya, tidak akan mampu melakukan proses pemberdayaan sendiri tanpa bantuan atau difasilitasi pihak lain. Harus ada kelompok atau seseorang, suatu lembaga yang bertindak sebagai agen pemberdayaan bagi mereka.

Pemberdayaan masyarakat berbeda dengan apa yang selama ini dipahami orang dengan pendekatan karikatif (memberi bantuan dengan dasar belas kasihana) dan pengembangan masyarakat (community development) yang biasanya berisi pembinaan, penyuluhan, bantuan teknis, dan manajemen serta mendorong kemandirian/keswadayaan. Dua pendekatan pembanguna di atas biasanya ada intervensi dari orang luar yang mengambil inisiatif, prakarsa dan memutuskan dan melakukan sesuatu sesuai dengan pikirannya sendiri. Masyarakat diikutkan sebagai objek pembangunan, pihak luar berfungsi sebagai pembina, penyuluh, pembimbing dan pemberi bantuan. Dari penjelasan di atas bisa dipahami bahwa esensi pemberdayaan masyarakat adalah proses dari, oleh dan untuk masyarakat, dimana masyarakat didampingi/difasilitasi dalam mengambil keputusan dan berinisiatif sendiri agar merek lebih mandiri dalam pembangunan dan peningkatan taraf hidup mereka, sedang pihak lain hanya berfungsi sebagai fasilitator.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s