Kebenaran Intersubjektif

Tema : Filsafat Ilmu

Perdebatan mengenai penelitian ilmiah selalu bersitegang bersamaan dengan perdebatan mengenai hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri. Singkat cerita, dapat dikatakan bahwa dua kubu yang bertikai adalah kubu yang beranggapan bahwa ilmu pengetahuan itu netral, berhadapan dengan kubu yang menganggap ilmu pengetahuan itu tak lepas dari kepentingan.

Mereka yang percaya bahwa ilmu pengetahuan itu netral mengandaikan idealita ‘kebenaran objektif’. Dengan demikian, tradisi penelitian ilmiah yang dibangun cenderung positivistik. Metodologi yang berakar pada tradisi Durkheimian dan Spencer (Darwinisme sosial) ini sempat menjadi arus utama dalam kancah penelitian sosial. Klaim yang ditawarkan adalah kemampuannya menghantarkan sebentuk ‘kepastian’. Penelitian sebagai sarana mencapai ‘kebenaran’, diusahakan untuk bersifat bebas nilai dan mengambil jarak dengan kenyataan. ‘Kenyataan’ dianggap sudah terwakili oleh data-data empirik yang dihitung secara matematis. ‘Fakta’ dirumuskan melalui kertas-kertas bersilang jawaban, tabel-tabel persentase, atau grafik-grafik yang dibilang ‘akurat’ dan ‘dapat dipercaya’ (reliable). Slogan yang merek dengung-dengungkan yaitu: “Biarkanlah data yang berbicara”.

Cara berpikir seperti itu telah mendapat tentangan dari kubu yang berpikir sebaliknya. Kubu ini mengatakan bahwa sejatinya tidak ada kebenaran objektif, apalagi bila fenomena sosial dianalisis menggunakan cara berpikir eksak atau yang dikenal dengan istilah ‘fisika sosial’. Kebenaran bersifat sangat khas dan subjektif, sesuai dengan pemaknaannya. Kebenaran, sesungguhnya ‘hanyalah’ sebentuk konsensus atau kesepakatan. Maka, kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran intersubjektif (telusuri pula fenomenologi Schultz atau verstehen-nya Weber).

Lebih jauh lagi, sementara pendapat meyakini bahwa yang namanya ‘kebenaran mutlak’ tidak akan mungkin dicapai melalui penelitian manusia. Dengan adanya proses falsifikasi a la Popper, hal itu senantiasa bersifat sementara dan selalu mengalami dialektika. Sehingga, yang lebih penting dalam sebuah penelitian adalah merumuskan pertanyaan. Kesimpulan-kesimpulan yang ditemukan melalui penelitian hanya penting untuk merumuskan pertanyaan selanjutnya. Dengan begitu, diharapkan ilmu pengetahuan dapat terus berkembang, tidak tertinggal dari perkembangan fenomena yang terjadi.

            Foucault: Kritik terhadap Kuasa Pengetahuan

Dalam dua pembacaan metodelogis diatas, maka usaha ini harus ditempatkan sebagai kritik Foucault terhadap pengetahuan. Kritik ini terutama didasarkan pada satu klaim Foucault, bahwa pengetahuan adalah bagian dari strategi kuasa, sehingga dengan sendirinya bersifat subyektif. Foucault bergerak pada jalur penyingkapan kedok rasio dengan segala perwujudannya dalam modernitas. Berbeda dengan postmodernis lain, dia tidak bergerak pada dunia metafisika ataupun estetika dalam kritik-kritiknya, melainkan dalam dunia ilmu kemanusiaan. Karena dibelakang ilmu kemanusiaanlah, cara kerja rasio begitu terlihat monologal dengan segenap kuasanya. Dan Foucault berhasrat untuk menelanjangi selubung tersebut.

Kaum positivisme percaya bahwa obyektifitas itu ada. Untuk meyakinkan terhadap kebenaran klaimnya, maka dibuatlah serangkaian aturan atau prosedur untuk memperoleh dan menyebarkan kebenaran. Foucault menelanjangi modernitas ini, yaitu dari sisi metodelogis, lewat bukunya Les mots et les choses (1966), L’archeologie du savoir (1969) dan L’ordre du discurs (1970). Buku-buku ini memuat konsep kerja yang dibangun Foucault, seperti arkeologi, geneanologi, episteme serta kuasa. Tujuan dari pembangunan semuanya adalah untuk menunjukkan kegagalan modernitas yang mengklaim obyektifitas dalam pandangan keilmuannya.

Bagi Foucault tidak ada sesuatu yang obyektif, karena segala sesuatu subyektif, segala sesuatu memiliki ruang cipta -baik sadar atau tidak- ketika sebuah pengetahuan disusun. Bahkan pengetahuan sendiri muncul, sebagai sesuatu yang subyektif dalam fungsinya mencampakkan gejala unreason atau ketidaksadaran (baca, kegilaan). Pengetahuan selalu bersifat politis, tetapi bukan karena mempunyai konsekuensi politik atau digunakan demi kepentingan politik, melainkan karena pengetahuan dimungkinkan karena adanya relasi-relasi kuasa. Dan kuasa itu tidak selalu bekerja melalui penindasan dan represi, tetapi terutama melalu normalisasi dan regulasi. Kuasa tidak dapat dilokalisasi, karena ia bekerja lewat aturan dan susunan. Dengan demikian kuasa tidak bersifat negatif, refresif dan subyektif, justru kuasa memiliki ciri positif dan produktif. Kuasa memproduksi realitas dan juga ritus-ritus kebenaran.

            Konteks dan Realitas Sosial Pemikiran

Krisis pemikiran dan pengetahuan Barat-modern akibat reduksi-reduksi metodologis dan instrumentalisasi pengetahuan, menandai runtuhnya bangunan epistema modern yang amat kental dengan nuansa positivistik. Krisis pengetahuan yang terjadi sejak paro pertama abad ini, merupakan hasil perkembangan sejarah pemikiran yang terjadi sejak proses modernisasi di Barat meruntuhkan tatanan nilai masyarakat Abad Pertengahan, melalui Renaissance dan memuncak pada zaman Afklarung.

Jamak dipahami, cara berpikir masyarakat Abad Pertengahan secara kualitatif lebih bercorak metafisik, karenanya berbeda secara diametral dengan masyarakat modern. Mereka meyakini adanya suatu tatanan dunia obyektif yang berdiri lepas dari subyek yang berpikir. Mereka meyakini adanya kebenaran pada dirinya, pengetahuan pada dirinya, realitas tertinggi yang lepas dari dunia material ini. Sedangkan modernisasi yang didorong oleh sistem kapitalis, teknologi dan negara-negara sekuler menyangsikan dan mempertanyakan semua makna dunia objektif-tradisional, sehingga lahirlah suatu bangunan epistemologis bahwa subyek memiliki peran mutlak membentuk realitas. Pada titik ini, pendulum telah bergerak dari obyek ke subyek. Artinya, subyeklah yang membangun dan menciptakan realitas.

Namun pergeseran pendulum ini tidak berlangsung lama. Positivisme telah menggeser pendulum epistemologi kembali ke obyek lagi, tapi obyek yang muncul dari kegiatan pengetahuan ini adalah obyek inderawi, bukan obyek spekulatif seperti ditampilkan pemikiran Abad Pertengahan, yang sama sekali tidak mau mengakui peranan subyek bahkan mengosongkan apa saja dalam diri subyek sehingga menjadi obyektif dan mekanis. Misalnya, dalam psikologi modern yang berdasarkan observasi empiris: konsep-konsep seperti kecemasan, rasa bersalah, perilaku, pikiran, diformalisasikan dan dipermiskin dari unsur-unsur subjektif. Demikian pula dalam ilmu-ilmu sosial, manusia diobservasi pada permukaan obyektifnya, lalu semua yang ditemukan dalam dimensi obyektif manusia juga digeneralisasi sebagai dimensi subyektifnya.

Dari sini, positivisme tampak ingin menjadi alternatif paradigma manusia modern yang ingin menyatukan berbagai bidang kenyataan. Positivisme berpretensi untuk membangun kembali tatanan obyektif baru yang bukan didasarkan pada metafisika, melainkan pada metode saintisme ilmu-ilmu alam. Pada titik ini, apa yang disebut ‘krisis’ itu muncul. Saintifikasi terhadap berbagai bidang hidup mengimplikasikan penerapan teknologisasi dalam berbagai bidang hidup yang akhirnya mereduksi manusia pada matra obyektifnya. Usaha mengilmiahkan masyarakat dan kehidupan pada gilirannya akan mempermiskin dan mengosongkan makna kehidupan manusia itu sendiri.

Yang menjadi persoalan serius dalam krisis pengetahuan dan kemanusiaan Barat bukanlah pandangan positivistis, yang memang sesuai bila diterapkan pada ilmu-ilmu alam, melainkan positivisme atau penerapan metode ilmu-ilmu alam pada ilmu-ilmu sosial, seperti dirintis oleh August Comte yang kemudian disebutnya dengan ‘Fisika Sosial’. Tujuan positivisme dalam ilmu-ilmu sosial tentu bersifat praktis, yaitu memberikan pendasaran pengetahuan tentang ‘hukum-hukum’ yang mengatur masyarakat dan mengadakan susunan masyarakat yang lebih sempurna. Adagium positivisme yang kental dengan savior pour prevoir, mengetahui untuk meramalkan, menyiratkan suatu intensi yang kuat untuk merekayasa masyarakat (social-engineering).

Dengan mencangkokkan ilmu-ilmu sosial kepada metode ilmu-ilmu alam, tentu akan sangat problematis. Sebab, keduanya memiliki obyek observasi berbeda. Masyarakat dan manusia sebagai obyek ilmu-ilmu sosial tentu tidak dapat diprediksi dan dikuasai secara teknis seperti obyek ilmu-ilmu alam yang bersifat ahistoris. Sebaliknya, masyarakat dan manusia dengan segala proses-proses sosial yang terdiri dari tindakan-tindakan manusia hanya dapat dipahami dengan pengetahuan reflektif dan pemahaman intersubyektif.

Slogan yang menjadi syarat pengetahuan selama ini, seperti objektif, universal, sistematis, koheren dan lain sebagainya, menjadi suatu yang tidak sinkron bila ini dipaksakan ke dalam ilmu – ilmu sosial, dan tidak akan mungkin ilmu sosial itu ada. Hal ini berdampak kepada pemerkosaan terhadap ilmu pengetahuan. Sebab fungsi ilmu sosial adalah menginterpretasi prilaku masyarakat, yang dipelajari bukan objek, tapi subjek – subjeknya ( subjective Trans Science) bahkan netralitas tidak dikenal dalam ilmu sosial ini. Ilmu sosial adalah ilmu yang berpihak, beridiologi, dan ilmu yang beragama ( tidak hanya berakal) serta dalam perkembangannya dipengerauhi oleh perubahan masyrakatnya.

Disadari atau tidak, sampai saat ini pengaruh positivisme dalam ilmu-ilmu sosial sangat kuat, meski banyak kalangan mengatakan bahwa menguatnya diskursus teori sosial kritis dan posmodern pada awal abad ini merupakan senjakala kedigdayaan positivisme. Banyaknya perspektif ilmu-ilmu sosial (sosiologi) mengenai masyarakat yang merupakan manifestasi dari sudut pandang positivisme seperti teori evolusionisme (August Comte, Herbert Spencer), struktural fungsional (Talcott Parson, Kingsley Davis, Robert Merton), struktural konflik (Marx, C. Wright Mills, Lewis Coser, Ralf Dahrendorf), dan teori sistem meruapakan salah satu buktinya. Teori-teori itu memberikan perhatian utama kepada fakta sosial, khususnya menyangkut struktur sosial (social structure) dan pranata sosial (social institution). Tentu saja dengan memperhatikan dua hal itu (struktur sosial dan pranata sosial), tidak akan mampu menemukan sesuatu yang penting dalam masyarakat dan manusia. Karena dua hal tersebut sifatnya superficial, yakni hanya mampu mengupas dimensi-dimensi eksternal dan hal-hal yang ada dipermukaan manusia.

Untuk menjawab krisis pengetahuan tersebut, tentu saja membutuhkan fenomenologi sosial. Diharapkan ketidakmampuan ilmu-ilmu berbasis positivistik untuk menangkap masalah nilai dan makna dapat dijembatani oleh analisa fenomenolgis. Dalam konteks ini, pendekatan fenomenologi Alfred Schutz tentu perlu diketengahkan, sekurang-kurangnya dapat menjadi metode alternatif khusunya bagi ilmu-ilmu sosial.

            Key-words ( Kata Kunci ) dan Proposisi – proposisi

Fenomenologi sosial yang diintrodusir oleh Schutz mengandaikan adanya tiga unsur pengetahuan yang membentuk pengertian manusia tentang masyarakat, yaitu dunia sehari-hari, tindakan sosial dan makna. Dunia sehari-hari adalah dunia yang paling fundamental dan terpenting bagi manusia. Di katakan demikian, sebab dunia sehari-hari adalah lokus kesadaran intersubjektif yang menjembatani adanya kesadaran sosial. Dalam dunia ini, seseorang selalu berbagi dengan teman, dan orang lain, yang juga menjalani dan menafsirkannya. Karena itu, dunianya secara keseluruhan tidak akan bersifat pribadi, bahkan di dalam kesadaran pun seseorang selalu menemukan bukti adanya kesadaran orang lain. Ini merupakan suatu bukti bahwa sejarah hidup seseorang bukan semata-mata hasil produk tindakan pribadi. Kesadaran semcam ini, menuut Schutz merupakan tesis eksistensi alter-ego, pemahaman akan aku-yang-lain, sehingga memungkinkan adanya pemahaman timbal-balik antar sesama anggota komunitas (consociates).

Dengan demikian, kehidupan sehari-hari sebagai wadah kehidupan sosial yang sarat dengan kesadaran intersubyektif (makna timbal balik yang dihasilkan dalam interaksi ssosial ). Kesadaran ini mengacu pada teori Max Weber mengenai ‘tindakan sosial’. Apa yang dimaksud Weber dengan tindakan sosial adalah apabila tindakan atau perialku seseorang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain, atau setidaknya mempunyai makna subyektif bagi pelakunya. Tindakan yang diorientasikan pada benda fisik belum dapat dikatakan tindakan sosial, tapi tindakan katika diorientasikan pada orang dan mendapatkan makna subjektif pada saat itulah terbentuk tindakan sosial.

Persoalannya, bagaimana kita dapat memahami makna subyektif tindakan individu? Schutz menawarkan perlunya memahami konteks makna suatu tindakan. Menurutnya, ada sebuah konteks makna lain yang tidak berhasil dibedakan Weber, yaitu motif tujuan (in-order-to motive/Um-zu-motiv) yang merujuk pada suatu keadaan di masa yang akan datang (in te future prfect tense), dan motif karena (because motive) yang merujuk pada konteks situasi di masa lampau (past experiences). Motif-motif tersebut yang menentukan tindakan yang akan dilakukan seorang aktor. Dalam kerangka ini, tindakan sesorang hanya merupakan suatu kesadaran terhadap motif yang menjadi suatu tujuan dan bukan pada motif yang menjadi sebab. Karena kesadaran kepada motif yang menjadi sebab pada akhirnya dapat diperoleh melalui refleksi.

Pendasaran Schutz terhadap motif-motif itu dalam memahami tindakan orang lain berangkat dari asumsi, pertama, bahwa tidaklah mungkin bagi kita untuk secara mutlak memahami motif yang lain dalam kehidupan keseharian, motif-motif itu setidaknya dapat memberikan peluang akan pemahaman yang lain. Kedua, dengan adanya pemahaman ini akan memungkinkan kita untuk meningkatkan pemahaman terhadap makna tindakan orang lain.

Dengan memahami makna tindakan seseorang melalui motivasional context, menurut Schutz, sesungguhnya telah tercipta kesadaran sosial bagi setiap individu. Akibatnya, pemahaman terhadap tindakan seseorang dalam kehidupan sehari-hari secara otomatis menunjuk pada kesadaran sosial. Kesadaran akan hal ini pada gilirannya mengandaikan hadirnya kesadaran akan orang lain sebagai penghuni dunia yang dialami bersama. Rentetan kesadaran ini yang melahirkan bahwa orde dasar bagi masyarakat adalah dunia sehari-hari, dan makna dasar bagi pengertian manusia adalah akal sehat (common sense), yang terbentuk dalam bahasa percakapan sehari-hari. Akal sehat didefinisikan sebagai pengetahuan yang ada pada setiap orang dewasa yang sadar. Pengetahuan ini sebagian besar tidak berasal dari penemuan sendiri, tetapi diturunkan secara sosial dari orang-orang sebelumnya. Bahasa ibu, misalnya, adalah sebuah khasanah pengetahuan pertama bagi setiap orang yang telah dipelajari dan diterimanya begitu saja, tanpa orang mengetes kebenarannya secara sadar.

Akal sehat terbentuk melalui tipifikasi yaitu penyusunan dan pembentukan tipe-tipe pengertian dan tingkah laku untuk memudahkan pengertian dan tindakan. Tipifikasi ini tidak hanya menyangkut pandangan dan tingkah laku, tetapi menyangkut juga pembentukan makna. Hal ini terjadi karena orang-orang yang terlibat dalam komunikasi melalui bahasa dan interaksi sosial kemudian membangun semacam sistem relevansi bersama, dengan melepaskan dari tiap individu atau tiap peristiwa hal-hal yang bersifat individual untuk merujuk satu atau beberapa ciri yang sama yang dianggap relevan.

Dengan adanya tipifikasi semacam itu akan sangat membantu bagi penyesuaian diri dalam bekerja sama dengan orang yang tidak dikenal secara pribadi maupun dalam dunia yang lebih luas. Dengan tipifikasi pula pengetahuan langsung mengenai eksistensi orang lain tentu akan sangat mudah diketahui sehingga mudah pula membangun hubungan dengan apa yang disebut Schutz ‘orang-orang sezaman’ (contemporeries), ‘para pendahulu’ (predecessors), dan ‘para penerus’ (successor) yang sama sekali belum dan tak akan memiliki pengalaman-pengalaman bersama. Hubungan-hubungan yang dibangun juga bisa langsung (face to face) atau tidak langsung (they-relationships) seperti hubungan dengan orang-orang sezaman yang masih hidup bersama kita yang belum pernah kita jumpai, atau dengan para pendahulu dan penerus.

Tipifikasi-tipifikasi yang diabstraksi dari pengalaman langsung inilah yang dalam dunia keseharian dapat membentuk sistem sosial obyektif yang dengannya orang dapat berhadapan dengan sosio-kultural yang melampaui dunia sosio-kultural para consociate mereka. Kata Schutz:

“Supaya menemukan pegangan di dalam kelompok sosial, aku harus mengetahui berbagai cara berbagai pakaian dan bertingkah laku, mengenakan aneka ragam lencana, alat-alat, dan seterusnya. yang dianggap oleh kelompok itu sebagai sesuatu yang menunjukkan status sosial dan diakui secara sosial sebagai sesuatu yang relevan”.            

SUMBER :

Barker, Chris, 2005. Culture Studies, Yogyakarta: Kreasi Wacana.

F. Budi Hardiman, 2002. Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosofis tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas, Yogyakarta: Kanisius

O. Kattasof, Louis, 2004. Pengantar Filsafat, Yogyakarta: Tiara Wicana Yogyakarta

http://tsanincenter.blogspot.com/2009/09/dunia-keseharian-sebagai-lokus.html

https://nadya.wordpress.com/tag/intersubjektif/

http://roliandalas.blogspot.com/2008/10/kritik-foucault-terhadap-positivisme.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s