Menanamkan Nilai – Nilai Islam dalam Perpolitikan di Indonesia

Politik selalu berkaitan dengan kekuasaan(power) dan sebagaimana dikatakan C.O. Key, Ir.,seorang pakar ilmu sosial,politik terutama terdiri dari hubungan antara superordinasi dan subordinasi,antara dominasi dan submissi,antara yang memerintah dan yang diperintah. Bagi seorang marxis, suatu tindakan politik itu menguntungkan kaum proletar,memperlemah posisi dari apa yang mereka namakan kelas borjuis dan menuju revolusi sosial ke arah masyarakat tanpa kelas. Bagi seorang sekularis pragmatis, suatu tindakan politik adalah baik bila dapat memberi “benefit” atau keuntungan praktis dan manfaat materil, walaupun berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sesat. Sedangkan bagi seorang Muslim suatu tindakan politik adalah baik apabila tindakan tersebut berguna bagi seluruh rakyat sesuai dengan ajaran”rahmatan lil’alamin”.

Dengan demikian, dari tinjauan Islam ada dua jenis politik,yaitu politik kualitas tinggi dan politik kualitas rendah. Paling tidak ada tiga ciri yang harus dimiliki politik berkualitas tinggi atau oleh mereka yang menginginkan terselenggaranya “high politics”,yakni :

Pertama, setiap jabatan politik pada hakekatnya berupa amanah dari masyarakat yang harus dipelihara sebaik-baiknya. Amanah itu tidak boleh disalah gunakan,misalnya untuk memperkaya diri sendiri atau menguntungkan golongan sendiri dan menelantarkan kepentingan umum. Kekuasaan harus dilihat sebagai nikmat yang dikaruniakan oleh Allah untuk mengayomi masyarakat,menegakkan keadilan dan memelihara orde atau tertib sosial yang egalitarian. Kekuasaan betapapun kecilnya,harus dimanfaatkan untuk membangun kesejahteraan bersama, sesuai dengan amanat yang telah dipercayakan oleh masyarakat luas.

Kedua, erat dengan yang tersebut di atas setiap jabatan politik mengandung dalam dirinya pertanggungjawaban. Sebagaimana diajarkan Nabi saw.setiap orang pada dasarnya pemimpin yang harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya atau tugas-tugasnya. Kesadaran akan tanggungjawab ini sangat menentukan dalam usaha kita menyelenggarakan politik berkualitas tinggi. Akan tetapi tanggungjawab ini bukan terbatas di hadapan institusi-institusi atau lembaga yang bersangkutan, lebih penting lagi adalah tanggungjawab di hadapan Allah,di depan mahkamah yang paling adil besok di akhirat. Membicarakan pertanggungjawaban di depan Tuhan bagi telinga kaum sekularisme-pragmatis barangkali kedengaran janggal, apalagi bagi kaum marxis yang memang atheis. Hanya saja selalu kita ingat bahwa Al-Qur’an dan Hadist dalam berbagai tempat menggaris bawahi mutlak pentingnya iman kepada Allah dan pertanggungjawaban kita di hadapan-Nya. Seorang Politikus,pejabat atau negarawan yang kesadaran tanggungjawabnya pada Tuhan sangat dalam,secara otomatis memiliki “pembangunan kontrol” yang tidak ada taranya. Ia memiliki kendali diri yang sangat kuat untuk tidak terperosok ke dalam rawa-rawa kemunafikan.

Ketiga, kegiatan politik harus dikaitkan secara ketat dengan prinsip ukhuwah, yakni persaudaraan di antara sesama umat manusia. Ukhuwah dalam arti luas melampaui batas-batas etnik,rasial,agama,latar belakang sosial,keturunan dan lain sebagainya. Politik kualitas tinggi sangat kondusif bagi pelaksanaan amar ma’ruf dan nahi munkar.Seperti yang terkandung dalam surat al-Hajj ayat 41 ;

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأمُورِ (٤١)

 “Mereka adalah orang-orang yang bila kami beri kekuasaan yang teguh di muka bumi niscaya menegakkan shalat,membayar zakat dan menyuruh (manusia) berbuat kebaikan serta mencegah kejahatan;dan bagi Allah sajalah kembalinya segala macam urusan”.

Di Negara-negara berkembang, bahkan di negeri-negeri muslim seperti Indonesia, politik kualitas rendahan pada umumnya justru dominan. Ditinjau dari sudut pandang Islam, politik semacam ini tidak mendukung maksud-maksud dakwah,tetapi justru menjegal dakwah, merusak rekostruksi masyarakat yang islami.

Kondisi Politik Islam dan partai Islamnya tidak begitu menggembirakan dalam perjalanannya. Kondisi menyesakkan dada ini memang sangat memprihatinkan. Mengingat, dakwah Islam yang dilakukan telah melewati rentang masa yang teramat panjang di bumi Nusantara ini. Banyak faktor penyebab,mengapa politik Islam itu mengalami kondisi yang menyesakkan. Di antaranya adalah karena kurangnya  perhatian dari partai-partai Islam itu sendiri menyangkut masalah pendidikan politiknya. Mereka menganggap tidak terlalu penting pendidikan politik itu karena bisa memakan waktu lama dan juga menghabiskan energy dan dana yang tidak sedikit. Mereka selalu berpikir instan. Bahkan menganggap pendidikan politik itu sebagai pemborosan uang dan waktu. Mereka tak memiliki dana tapi tergesa-gesa dan memaksa.

“Barangsiapa yang menunjukan kepada suatu kebaiakan, maka ia akan membuahkan ganjaran pahala sebagaimana orang yang melakukan kebaikan itu” (HR. Muslim) itulah dakwah, amal mulia warisan nabi. Pada hakikatnya, setiap orang mampu melakukannya.

Padahal hakikatnya  pendidikan politik adalah satu-satunya medium untuk melahirkan individu-individu yang bisa memiliki jiwa kepemimpinan yang berkualitas,terampil,tahan uji serta berkepribadian Islam yang teguh. Salah satu fungsi partai politik itu adalah melakukan pendidikan politik kepada rakyat. Setidak-tidaknya kepada konstituen dan kader-kadernya. Oleh sebab itu,partai politik yang mengabaikan pendidikan politik berarti telah mengabaikan salah satu fungsi utamanya. Justru,fungsi inilah yang pada umumnya terabaikan pada realitas dunia kepartaian di Indonesia. Terlebih lagi di tubuh partai-partai Islam,itulah yang menjadi penyebabnya. Mengapa banyak partai Islam sangat kekurangan sumber daya manusia (SDM) handal dan berkualitas,yang membuat tokoh-tokh politisi muslim belum mampu memposisikan diri sebagai pemimpin umat sekaligus pemimpin bangsa yang disegani. Dan itulah salah satu kelemahan di hampir seluruh partai Islam yang ada. Akibat yang paling menyedihkan,akhirnya partai Islam di mata publiknya sendiri hadir sebagai partai yang membingungkan,bahkan menyulitkan.Mengapa? Karena publik tidak memperoleh informasi yang lengkap dan meyakinkan. Yaitu,informasi yang tentang kualitas para pimpinannya,asas,tujuan dan program-program dari masing-masing partai Islam. Malahan cenderung menyulitkan ketika mereka harus menjatuhkan pilihannya.

Partai Islam dalam setiap kali pemilihan umum yang diselenggarakan di negeri ini(sampai 2004),selalu kalah. Padahal perjuangan partai-partai Islam pada pemilu pertama tahun 1955 begitu gigih. Sebenarnya,dalam proses selanjutnya ,kecenderungan kekalahan terus-menerus itu sudah harus bisa memberikan pelajaran berharga bagi seluruh partai Islam. Mereka harus bertanya,antara lain seperti :

  1. Mengapa partainya tidak memiliki nilai jual di mata publiknya sendiri?
  2. Mengapa justru publik banyak menjatuhkan pilihannya pada partai-partai berhaluan lain,seperti berhaluan nasionalis-sekuler?

Itu sebenarnya yang harus menjadi fokus pemikiran. Lalu, dicarikan jalan pemecahannya. Mungkin pemecahannya dengan lebih dahulu mengubah performance-nya untuk ditata kembali sebagai prioritas utama.

Sehingga bisa punya nilai jual lagi. Secara gampangnya,ibarat memproduksi permen. Agar laku di jual,kemasannya harus menarik dengan desain masa kini dan isinya pun enak. Dua faktor ini justru tidak tampak sama sekali pada tampilan berbagai partai Islam itu, utamanya di mata anak-anak muda. Faktanya memang begitu,kemasannya ketinggalan jaman,isinya pun kurang enak. Meskipun pada pemilu 2004 ada salah satu partai Islam yang mendapatkan limpahan suara yang besar. Kondisi ini bisa terjadi ketika partai Islam tersebut melakukan semacam gerakan tampil beda,dimana para politisinya meski hanya beberapa gelintir saja di pusat dan daerah-daerah,mereka banyak tampil di publik dengan cara dan tata laku politik yang dianggap kontras-setidaknya berbeda dalam arti positif-dengan politisi atau partai politik lain yang lebih dulu dikenal masyarakat Indonesia. Aneka tata laku yang berbeda itu mulai demonstrasi dan unjuk rasa yang tertib,sopan dan rapi tanpa pernah membuat macetnya jalan,sikap antikorupsi yang tegas, aneka program propublik seperti bakti sosial bidang pendidikan,kesehatan, maupun bencana alam. Lebih dari itu,ia mewarnai ‘kanvas besar” politik Indonesia dengan “politik program”nya yang menarik, bersih dan peduli,sebagai sesuatu yang terasa menyegarkan di tengah politik Indonesia yang didominasi jargon bermuatan tipu muslihat kepada rakyat. Ternyata dengan tampilan seperti itu partai Islam bisa meraih simpati masyarakat Indonesia dan meraup suara signifikan. Tidak seperti sekarang, rakyat dijejali dengan tampilan yang cenderung tidak nyambung. Masyarakat muslim menyaksikan para dai dan pemimpin agama mereka di TV, Koran ataupun ceramah-ceramah umum selalu membicarakan tentang dekadensi moral dan pentingnya agama bagi kehidupan serta keharusan tegaknya syariah Islam. Sementara sehari-hari mereka menghadapi kenyataan bahwa biaya sekolah anak mahal, mencari pekerjaan sulit, harga sembako terus naik.

Publik tidak merindukan politisi Islam dan pemimpin agama yang fasih berkoar-koar soal moralitas dan agama di televisi. Namun merindukan elit politik, ulama, dai, ustad yang mau datang saat mereka menghadapi penggusuran. Khotbah tentang moralitas, pentingnya budi pekerti bisa jadi tetap mereka perlukan, namun masyarakat jelas membutuhkan sapaan yang lebih manusiawi dan bukannya khotbah serta ceramah berkepanjangan soal moralitas dan hukum-hukum agama.

Nuansa kerinduan itu harus disadari dan jangan sekali dinafikan. Dan penafian itulah penyebab terus merosotnya dukungan kepada partai-partai islam. Sebenarnya partai Islam secara realitas mempunyai harapan untuk bisa besar karena mereka diuntungkan, setidaknya oleh dua faktor :

Pertama, modal dasar yang dipunyai,yaitu adanya ratusan juta umat muslim.

Kedua, kondisi politik yang sedang terjadi. Harus dipahami, apa pun bentuk kondisi itu, seharusnya selalu bisa disiasati dan diambil sisi positifnya. Hanya masalahnya karena kurang bisa membaca situasi lantas jadi ikut-ikutan larut dalam kodisi yang terjadi itu.

Sebenarnya kedua faktor itu tidak terlalu sulit untuk direbut. Hanya itu tadi,kurang bisa membaca situasi. Kalau partai-partai islam bisa membaca situasi itu,otomatis akan tumbuh semangat bersama untuk bangkit. Akan tumbuh bagaimana mengolah publik yang ratusan juta kaum muslim itu beralih menjadi konstituennya yang riil. Bukan lagi sekadar hitungan di atas kertas.

Salah satu cara menjaring suara bisa juga dengan melakukan perubahan tema-tema kampanye yang disuarakan. Temanya tidak lagi semata-mata bernuansa ideologis seperti menuntut penegakan syariah, tapi medahulukan dengan lebih dominasi isu-isu aktual, seperti masalah pengentasan kemiskinan dan pengangguran dengan konsep-konsep yang rasional dan juga pemberantasan korupsi, dan penegakan hukum.

Memang di depan mata kita sebagai warga bangsa, sekali lagi partai Islam itu prestasi dan perilakunya sangat menyesakkan dada. Para analis mengatakan itu karena antara lain,partai-partai Islam banyak melakukan aksi-aksi yang sama sekali tidak simpatik. Sering mengatasnamakan agama untuk kepentingan yang justru bertentangan dengan agama. Seperti atas nama agama menghujat dan melakukan kekerasan pada yang lainnya. Dan terlalu sering melahirkan situasi konflik. Baik itu lewat perang urat syaraf maupun lewat kekerasan dan perusakan sampai bentrok fisik di antara sesama komponen bangsa bahkan sesama pendukung partai Islam itu sendiri.

Dengan kemampuan kebersamaan sesama partai Politik Islam itu dan tentunya pula bisa bekerja sama secara kostruktif,pasti akan berkelanjut ke level yang lebih luas lagi. Level tersebut adalah menumbuhkan rasa saling pengertian yang sangat baik antara Islam, umat Islam dan partai politik Islam di satu sisi dengan seluruh elemen bangsa besar ini.

Referensi :

Al-Qur’an dan Terjemahannya, 1415-H/ 1994-M,Mujamma’ Al-Malik Fhad li

Allaf, Abdullah Ahmad. 2008.Seribu Satu Cara Berdakwah. Surakarta : Ziyad Visi Media

Amien Rais, Muhammad . 2004 . Hubungan Antara Politik dan Dakwah. Bandung : Mujahid

Anwar,Fananie. 2009 . Politik Islam Politik Kasih Sayang. Sidoarjo : Masmedia Buana Pustaka

Budiardjo, Miriam. 2008 .Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s