Kebesaran Ilmu Allah dari Segi Ilmu Sains

Oleh : Hikmawan Syahputra

Allah memiliki pengetahuan pada segala yang tidak terlihat. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu yang tidak samar dan sesuatu yang tersembunyi. Semua yang diketahui Allah meliputi setiap segi. Allah mengetahui dengan pengetahuan yang mutlak dan Allah Maha Mengetahui.

      “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutirbijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (OS Al-Anam [6]: 59)

Tidak dapat di pungkiri lagi, banyak ilmuan pada jaman dahulu secara “tidak sengaja” telah menemukan kebesaran Allah SWT. dalam menciptakan alam semesta ini. Sebagai contoh : Fisikawan asal inggris, Sir Isaac Newton (1642-1724) yang telah menemukan ketetapan mekanik tentang gaya gavitasi.

Ia merasa yakin telah mendapat bukti tentang adanya eksistensi Tuhan dalam menciptakan alam semesta ini. Dalam esai awalnya, De Gravitatione et Aequipandio Fluidorum, ia mengatakan, “… gravitasi internal benda-benda langit tidak menarik semua benda itu menjadi suatu putaran massa yang besar, karena benda-benda tersebut telah dengan cermat disebarkan di angkasa dengan jarak yang cukup jauh untuk mencegah terjadinya tabrakan besar. Gravitasi mungkin dapat menggerakkan planet-planet, namun tanpa sebuah kekuatan Illahiah yang Maha Dahsyat-Sang Mekanik Sejati, gravitasi takkan pernah mampu membuat planet-planet sirkular terhadap matahari sebagaimana adanya.”

Dari pernyataan Newton tersebut, dapat kita simpulkan bahwa pada awal penciptaan alam semesta ini, Allah SWT telah menunjukkan kebesarannya dalam menciptakan sesuatu dengan memperkirakan segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi, sehingga Allah SWT menciptakan alam semesta ini dengan sangat sempurna dan indah. Allah telah menciptakan planet-planet dengan orbitnya atau garis lintasannya masing-masing sehingga planet-planet tersebut tidak bertabrakan. Hal ini sesuai dengan firman Allah :

            “Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (QS. Al-Anbiyaa’ [21]:33).

             “Allah-lah yang telah menciptakan tujuh langit dan bumi seperti itu pula. Perintah Allah berlaku padanya, supaya kamu ketahui bahwa Allah itu Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.” (QS Ath-Thalaaq [65]:12).

Tidak hanya itu, bahkan Allah-lah sumber dari segala sumber ilmu. Dia tidak saja sekadar tahu, tapi Dia adalah sumber pengetahuan. Perlu diketahui bahwa ilmu Allah itu bukan hasil dari sesuatu, tapi segala sesuatu yang ada dan terjadi di dunia (nomena dan fenomena) ini merupakan hasil dari ilmu-Nya. Allah berfirman: “Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Baqarah: 255)

Meskipun demikian, Allah tidak mau memonopoli ilmu-Nya sendiri. Dia mau berbagi (sharing) kepada makhluk-Nya, terutama kepada manusia. Dia menstransformasi dan mengajari manusia melalui “qalam”, sebagaimana firman-Nya: “Yang mengajari manusia dengan media qalam, mengajar apa yang mereka tidak ketahui.” (QS. Al-Alaq: 4-5)

Khusus dalam hal ilmu ini, manusia dibebaskan menyandang gelar aliim bagi mereka yang telah sampai pada kualifikasi tertentu. Orang yang berpengetahuan boleh disebut aliim, sama dengan Asma yang disandang Allah. Akan tetapi harus disadari bahwa ilmu manusia tetaplah tak sebanding dengan ilmu Allah, bahkan tidak ada apa-apanya. “Tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Israa: 85).

Pernyataan ini juga senada seperti yang disampaikan Newton. Dia menggambarkan bahwa adanya suatu eksentensi Tuhan yang luar biasa sebagai penguasa ilmu, dan bahwa sesungguhnya setinggi apapun ilmu manusia tidaklah hanya setitik kecil dari ilmu tuhan yang maha luas, pernyataan ini dia ungkapkan dalam Quatad from Isaac Newton, sebagai berikut:

            I do not know what I may appear to the world, but to my self. I seem to have been only like a boy, playing on the seashore and diverting my self now and then finding a smoother pebble or a prettier sea shell than ordinary, while the great ocean of truth lay all undiscovered before me.

Untuk menggambarkan betapa sedikitnya ilmu manusia, Al-Qur’an menegaskan: “Katakanlah, sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS. Al-Kahfi: 109)

Sekalipun sedikit, asal tidak disom­bongkan, Allah senantiasa mengangkat derajat mereka yang berilmu. Bagi yang menuntut ilmu, Allah mengganjarnya dengan pahala yang besar. Sedang ba­gi mereka yang telah berilmu, Allah mengangkat derajatnya. Allah berfirman:

“…Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mujadalah: 11)

Selain itu, Allah juga sangat mengatur dan memperkirakan seteliti mungkin tentang proses alam semesta ini, Allah adalah sumber sains. sebagaimana Allah Berfirman:

 Dia-lah Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanaman-tanaman; zaitun, korma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami-(nya), dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. Dan Dia-lah Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan darinya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. An-Nahl, 16: 10-17).

Ini sekali lagi membuktikan bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu, setiap apa yang tampak ataupun yang tersembunyi Allah Maha mengetahui, tidak ada sedikitpun yang tidak diketahui Allah SWT.

            “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu” ( Ath-Thalaq : 12)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s