DID THE UNIVERSE NEED A CREATOR ???

Pertanyaan semacam itu terkadang terlintas didalam benak manusia dan beberapa ilmuan dan filusuf mulai memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut.Sehingga munculah nama – nama filosof seperti Karl Max , George Politzer , A. S. Eddington , Sir Fred Hoyle sampai tokoh sekaligus Filusuf muslim Al-Farabi dan Ibnu sina.

Karl Max adalah salah satu tokoh dalam filsafat Matrealis, dia mengatakan bahwasanya zat itu merupakan suatu makhluk yang mutlak dan menolak segala keberadaan kecuali keberadaan zat. Sedangkan George Politizer mengatakan bahwa “alam semesta bukan merupakan obyek yang diciptakan”, dan katanya lagi Kalau begitu, alam semesta pasti diciptakan sekaligus oleh Tuhan dan dijadikan dari ketiadaan. Untuk menghasilkan ciptaan, maka di tempat pertama, Penciptanya harus menghasilkan keberadaan tersebut pada waktu alam semesta tidak ada, dan bahwa segala sesuatu muncul dari ketiadaan. Inilah yang tidak dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.( George Politzer, Principes Fondamentaux de Philosophie, Editions Sociales, Paris, 1954, hlm. 84) Politizer berpijak pada model alam semesta statis abad 19.

Namun sejalannya waktu dan tingkat pengetahuan yang semakin berkembang dalam dunia pengetahuan di awal abad ke-21, dengan eksperimen, observasi dan perhitungan, fisika modern telah membuktikan bahwa alam semesta memiliki suatu awal dan diciptakan dari ketiadaan melalui ledakan dahsyat. Artinya Bahwa alam semesta memiliki suatu awal berarti kosmos bukan dihasilkan dari sesuatu yang tidak ada, melainkan diciptakan. Jika ciptaan itu ada (yang sebelumnya tidak ada), maka tentu saja ada Pencipta alam semesta. Ada dari tiada (creatio ex-nihilo)  ialah sesuatu yang tidak dapat dipahami oleh benak manusia. (Manusia tidak dapat memahaminya karena tidak berkesempatan untuk mengalaminya). Karena itu, ada dari tiada itu sama sekali bukan pengumpulan obyek-obyek untuk membentuk obyek baru sekaligus. Namun seiring berjalannya waktu teori ini dapat ditolak dengan causality theory yang mengatakan bahwa adanya sesuatu disebabkan oleh adanya sesuatu yang lain (kemudian teori ini berkembang dan menjadi teori kosmologi).Munculnya alam semesta dari tiada menjadi ada tersebut merupakan bukti terbesar diciptakannya alam semesta. Mempelajari fakta ini akan mengubah banyak hal. Ini membantu manusia memahami arti kehidupan dan memperbaiki sikap dan tujuannya. Karena itu, banyak kalangan ilmuwan berupaya mengabaikan fakta penciptaan yang tidak dapat mereka pahami sepenuhnya, meskipun buktinya jelas bagi mereka. Kenyataan bahwa semua bukti ilmiah mengarah pada keberadaan Pencipta telah memaksa mereka untuk mencari alternatif-alternatif yang bagi alam pikiran orang awam membingungkan. Meskipun demikian, bukti ilmu pengetahuan sendiri jelas-jelas mengakhiri perjalanan teori-teori ini.

Berikut adalah beberapa Teori yang menyatakan terjadinya alam semesta:

HIPOTESIS NEBULA

Hipotesi nebula pertama kali ditemukan oleh Emmanuel Swedenborg tahun 1734 dan disempurnakan oleh Immanuel Kant pada tahun 1775. Hipotesis serupa juga dikembangkan oleh Pierre Marquis de Laplace secara independen pada tahun 1796. Hipotesis ini lebih dikenal dengan Hipotesi Nebula Kant-Laplace, menyebutkan bahwa tahap awal, tata surya masih berupa kabut raksasa. Kabut ini terbentuk dari debu, es, gas yang disebut nebula. Sebagian Besar dari unsur gas ini adalah hydrogen.

Gaya gravitasi yang dimiliki menyebabkan kabut itu menyusut dan berputar dengan arah tertentu. Semakin lama, suhu kabut ini memanas dan akhirnya menjadi bintang raksasa (matahari). Mtahari raksasa terus menyusut dan berputar semakin cepat. Cincin-cincin gas dan es terlontar ke sekeliling matahari. Akibat gaya gravitasi, gas-gas tersebut memadat seiring dengan penurunan suhunya dan membentuk planet dalam dan planet luar. Laplace berpendapat bahwa orbit berbentuk hampir melingkar dari planet-planet merupakan konsekuensidari pembentukan mereka.

Oleh koran The Times, kalimat itu ditafsirkan, dalam fisika modern,  ”Tuhan tidak berperan dalam penciptaan alam semesta” – “leaves no place for God in the creation of the universe”. Sedangkan The Guardians memaknai “Tuhan tidak menciptakan alam semesta” – “God did not create the universe”

Fisikawan Inggris Stephen Hawking yakin bahwa keberadaan manusia dan alam semesta bukan hasil ciptaan Tuhan, melainkan muncul dengan sendirinya. Sebab ada hukum gravitasi, alam semesta bisa menciptakan dirinya sendiri. Dia mengklaim tidak ada kekuatan ilahiyah yang dapat menjelaskan mengapa alam semesta ini terbentuk. Dalam buku terakhirnya, The Grand Design, dikutip oleh The Times, Hawking menjelaskan “Sebab di sana ada hukum gravitasi, alam semesta dapat dan akan menciptakan dirinya sendiri.”

Di buku A Brief History of Time, Prof Hawking tidak menafikkan kemungkinan turut campurnya Tuhan dalam penciptan dunia. Dia menulis di bukunya tahun 1988, “Jika kita menemukan sebuah teori yang lengkap, maka hal tersebut menjadi kemenangan nalar manusia. Oleh sebab itu, kita akan mengenal Tuhan.”

Hawking, dalam buku terbarunya, menolak teori Isaac Newton yang menyatakan bahwa terciptanya alam semesta terbentuk tidak secara spontan namun digerakkan oleh Tuhan.

Kalau alam semesta tercipta karena gravitasi, dan terbentuk melalui ledakan kabut (nebula) yang besar yang di dalamnya terdiri gas, es, dan debu. Lalu, yang menciptakan gravitasi serta gas, es dan debu itu siapa? apakah tercipta secara kebetulan atau dengan sendirinya? Ataukah ada sesuatu yang memungkinkan tejadinya keteraturan diakibatkan ledakan tersebut?. Dari ketiadaan itulah maka diperlukan sang pencipta alam semesra ini.

MELUASNYA ALAM SEMESTA

Pada tahun 1929, di Observatorium California Mount Wilson, Astronom berkebangsaan Amerika Edwin Hubble menghadirkan salah satu penemuan terbesar dalam sejarah astronomi. Ketika mengamati bintang-bintang dengan teleskop raksasa, dia menemukan penemuan yang sangat penting yaitu bintang dan galaksi bergerak menjauh bukan hanya dari kita, tetapi juga saling menjauh sesuai dengan berjalanya waktu setelah kejadian itu ia mendapati bahwa cahaya dari bintang-bintang itu berubah ujung spektrumnya menjadi merah dan bahwa perubahan ini lebih memperjelas bahwa itu bintang-bintang yang menjauh dari bumi. Penemuan ini berpengaruh bagi dunia ilmu pengetahuan, karena menurut aturan ilmu fisika yang sudah diakui, spektrum cahaya berkedip-kedip yang bergerak mendekati tempat observasi tersebut cenderung mendekati warna lembayung (merah bercampur ungu), sedangkan spektrum cahaya berkerlap-kerlip yang menjauh dari tempat observasi itu cenderung mendekati warna merah. Artinya, bintang-bintang itu menjauh dari kita secara tetap dan teori ini di perkuat oleh kesimpulan dari teori fisika Albert Einstein yang menyatakan “ bahwa alam semesta itu tidaklah tetap ataupun statis melainkan terus menerus mengembang”, namun sayangnya Einstein tidak menggunakan teorinya untuk melawan teori model alam semesta statis yang sudah diakui luas di zamannya dan ia pun mengakui hal itu adalah kesalahan terbesar dalam karir keilmuannya.

Jadi suatu fakta yang didapat adalah bahwa bertambah luasnya Alam semesta itu menunjukkan bahwa jika alam semesta dapat bergerak mundur dalam hal waktu, maka alam semesta terbukti berasal dari ‘titik tunggal’. Perhitungan menunjukkan bahwa titik tunggal ini yang mengandung pengertian semua zat atau materi yang ada di alam semesta mempunyai ‘volume nol’ dan ‘kepadatan yang tak terhingga’. Alam semesta terjadi karena adanya ledakan dari titik tunggal yang bervolume nol ini. Ledakan yang luar biasa dahsyatnya yang disebut Ledakan Dahsyat ini menandai awal dimulainya alam semesta. ‘Volume nol’ merupakan satuan teoretis yang digunakan untuk tujuan pemaparan. Ilmu pengetahuan dapat menetapkan konsep ‘ketidakadaan’, yang berada di luar jangkauan batas-batas pemahaman manusia, dengan hanya mengungkapkannya sebagai ‘suatu titik yang bervolume nol’. Alam semesta muncul dari ‘ketidakadaan’. Dengan kata lain, alam semesta itu diciptakan. Teori Ledakan Dahsyat itu menunjukkan bahwa pada awalnya, semua obyek di alam semesta merupakan satu bagian dan kemudian terpisah-pisah.

Jika kita kaji mengenai teori BIG BANG atau yang dikenal dengan teori ledakan besar yang menunjukan bahwa alam semesta berasal dari suatu ketiadaan dengan kata lain bahwa alam semesta ini diciptakan. Namun Teori ini mendapatkan hujatan keras dari para ilmuan –ilmuan Matrealis Salah satunya ialah Sir Fred Hoyle. Pada pertengahan abad ke-20, Hoyle mengemukakan suatu teori yang disebut keadaan-tetap yang mirip dengan pendekatan tentang alam semesta yang bersifat tetap dan statis pada abad ke-19. Teori keadaan-tetap berpendapat bahwa ukuran alam semesta tidak terbatas dan waktunya kekal. Dengan tujuan untuk mendukung filsafat materialisme , teori ini sepenuhnya berbeda dengan teori Ledakan Dahsyat, yang berasumsi bahwa alam semesta mempunyai permulaan. Namun seiring berjalannya waktu pada tahun 1965, dua peneliti, Arno Penzias dan Robert Wilson, secara kebetulan menemukan gelombang-gelombang ini. Radiasi ini, yang disebut ‘radiasi kosmos’, tampaknya tidak dipancarkan dari sumber tertentu, tetapi merembesi seluruh ruang angkasa. Jadi, panas gelombang yang diradiasikan secara merata dari sekeliling ruang angkasa itu tertinggal sisanya dari tahap awal Ledakan Dahsyat. Penzias dan Wilson mendapat penghargaan Nobel atas penemuan ini sekaligus mematahkan pendapat yang disampaikan oleh Hoyle

Bukti lainnya adalah jumlah hidrogen dan helium di ruang angkasa. Dalam hitungan terakhir, konsentrasi hidrogen-helium di alam semesta sesuai dengan perhitungan konsentrasi hidrogen-helium yang merupakan sisa dari Ledakan Dahsyat itu. Jika alam semesta tidak mempunyai permulaan dan jika alam semesta ada karena keabadian ada, maka unsur hidrogennya sepenuhnya telah digunakan dan diubah ke helium.

Teori ini membuat Roger Penrose, seorang fisikawan yang mendalami penelitian tentang asal-usul alam semesta, membuktikan bahwa adanya alam semesta bukan kebetulan belaka, ini menunjukkan bahwa pasti ada tujuannya. Bagi sebagian orang, ‘alam semesta itu sudah lama di sana’ dan akan tetap di sana. Kita hanya mendapati diri berada tepat di tengah-tengah benda semesta ini. Pandangan ini mungkin tidak dapat membantu kita dalam memahami alam semesta. Menurut pandangan Penrose, ada banyak masalah yang mendalam tentang alam semesta yang di luar jangkauan indera kita saat ini. (Stephen Hawking, Evreni Kucaklayan Karinca, Alkim Kitapcilik ve Yayincilik, 1993, hlm. 143).

Pandangan Roger Penrose ini sesungguhnya merupakan bahan pemikiran yang baik. Seperti yang kata-kata ini tunjukkan, banyak orang salah mengira bahwa adanya alam semesta dengan segala keharmonisannya yang sempurna itu ada bukan demi apa-apa dan bahwa mereka hidup di alam semesta ini demi peran yang lagi-lagi tidak bermakna.Akan tetapi, tidaklah lumrah sama sekali bahwa suatu tatanan yang sempurna dan menakjubkan itu terjadi setelah adanya Ledakan Dahsyat, yang bagi kalangan ilmiah berarti pembentukan alam semesta.

Singkatnya, bila kita periksa sistem hebat ini di alam semesta, kita lihat bahwa adanya alam semesta dan cara kerjanya itu bersandar pada keseimbangan yang sangat cermat dan keteraturan yang, karena terlalu rumit, tidak bisa dijelaskan dengan penyebab-penyebab yang kebetulan. Sebagai bukti, alam semesta sama sekali tidak mungkin terbentuk sendiri atau secara kebetulan setelah terjadinya suatu ledakan dahsyat. Terbentuknya tata aturan sedemikian itu yang mengikuti suatu ledakan seperti Ledakan dahsyat hanya dimungkinkan sebagai hasil dari penciptaan yang supernatural. Menurut Teori Ontologis yang mulai dikembangkan oleh Plato (428-348 SM).

Rencana dan tata aturan yang tiada banding itu tentunya membuktikan keberadaan sang Pencipta dengan pengetahuan, kebijakan dan kekuatan yang tidak terbatas, Yang telah menciptakan zat dari sesuatu yang tidak ada dan Yang mengendalikan dan mengaturnya secara berkesinambungan . Semua fakta ini juga didukung dalam kajian ontologis, dimana segala sesuatu yang ada di alam ini mempunyai idea. Idea adalah konsep universal dari setiap sesuatu. Manusia, misalnya, mempunyai konsep universal atau idea. Idea itu merupakan hakikat sesuatu. Ia merupakan adanya sesuatu. Ia berada di alam tersendiri, yaitu iddea yang bersifat kekal. Idea-idea itu tidak berdiri sendiri, tetapi bersatu pada idea tertinggi yang disebut Idea Kebaikan atau The Absolute Good, yaitu Yang Maha Mutlak Baik. Ia adalah sumber, tujuan, dan sebab dari segala yang ada. Dia adalah Sang Pencipta yaitu Allah, Penguasa langit, bumi dan seisinya. menunjukkan kita bagaimana filosofi materialisme, yang hanya merupakan suatu dogma abad ke-19, diganti dengan ilmu pengetahuan abad ke-20.

Dengan menguak rencana, disain, dan tata aturan hebat yang lazim ditemui di alam semesta itu, ilmu pengetahuan modern telah membuktikan keberadaan Sang Pencipta Yang telah menciptakan dan mengatur semua makhluk: yaitu, Allah.Dengan berpijak pada jumlah manusia yang luar biasa banyaknya selama berabad-abad dan bahkan telah mengaburkan sendiri dengan topeng ilmu pengetahuan, materialisme membuat kesalahan besar dan menolak keberadaan Allah, Yang menciptakan dan mengatur zat dari sesuatu yang tidak ada. Sehingga pada suatu hari, materialisme akan dikenang dalam sejarah sebagai keyakinan primitif dan takhyul yang bertentangan dengan akal dan juga ilmu pengetahuan.

DAFTAR PUSTAKA

Khalis, Ibnu. 2010. Ensklopedi Asal Usul. Yogyakarta: Diva Press

Kissanti, Annisa. 2009. Ensklopedi Asal-Usul. Yogyakarta: Araska

http://www.harunyahya.com

http://www.yahooanswer.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s