Pergerakan Mahasiswa Indonesia Sejak Zaman Penjajahan

Ada pendapat yang mengatakan bahwa mahasiswa adalah sebuah entitas dari perubahan suatu bangsa: agent of change. Dalam sebuah pergantian kekuasaan di Indonesia, misalnya, banyak diwarnai oleh peran aktif mahasiswa. Mulai dari gerakan mahasiswa di era penjajahan, kemerdekaan, tahun 1966-an, hingga gerakan mahasiswa tahun 1999. Serangkaian aksi menjadi bukti jatuh-bangunnya sebuah rezim yang berkuasa.

Sayangnya, saat ini pergerakan mahasiswa dianggap tumpul oleh banyak kalangan, khususnya para aktivis senior yang dulu bergiat menyuarakan kritik pada pihak-pihak yang terlampau zhalim, dalam hal ini biasanya penguasa. Bertempat di Goethe Institute Jakarta, pada Rabu (26/8) lalu, Ziarah Gerakan Mahasiswa digelar bersamaan dengan peluncuran buku Membakar Lahan Kering Perlawanan: Gerakan Mahasiswa 1990-an yang ditujukan untuk mengenang (alm) Andi Munajat.
Para penulis buku tersebut, antara lain FX Rudy Gunawan, Wilson, Yayan Sopyan, dan Nezar Patria, meyakini bahwa ada banyak perbedaan antara pergerakan mahasiswa yang terjadi saat ini dengan era mereka dulu. Sejak pembrangusan “pemerintahan mahasiswa” (student government) di kampus-kampus perguruan tinggi, politik mahasiswa kehilangan orientasi. Apalagi kondisinya kini idealisme para mahasiswa telah banyak ditunggagi oleh politik praktis.

Ziarah Gerakan Mahasiswa ini bukan sekadar dalam rangkaian acara peluncuran buku tersebut di atas dan diskusi tentang pergerakan mahasiswa dari masa ke masa. Acara ini juga ditujukan untuk mengenang (alm) Andi Munajat, seorang aktivis kampus era 1990-an yang menciptakan lagu Darah Juang, bersama rekannya, John Sonny Tobing. Andi dikenal sangat kritis dan vokal dalam menyuarakan hak-hak rakyat, mengktitisi kebijakan para penguasa. Lagu Darah Juang yang diciptakannya sebagai pemacu semangat saat melakukan berbagai aksi turun ke jalan, menjadi bukti eksistensi dan keseriusan seorang Andi Munajat berjuang di jalur pergerakan dengan teman-temannya.

Memasuki tahun ajaran baru, membincangkan peran dan fungsi mahasiswa sebagai aktor perubahan sangat menarik. Terlebih, jika dikaitkan dengan pasang surut Gerakan Mahasiswa (GM) yang belakangan ini terjadi akibat dinamika politik Tanah Air yang tidak tentu.
Sebelum membahas lebih jauh soal GM, sekedar mengingatkan saja akan peran sejarah yang pernah diukir GM di masa lampau. Di lintasan sejarahnya, GM acap muncul dan menggema di tengah kondisi bangsa yang sedang carut marut.

Lebih dari itu, sejarah bahkan jadi saksi bisu pengorbanan GM. Buktinya, banyak rezim tiran tumbang akibat keberanian GM menjadi martir perubahan. Meletusnya tragedi Semanggi, Trisakti dan Mei 1998 di Jakarta jadi catatan penting dalam perjalanan sejarah GM membawa angin reformasi.

Jauh sebelum babak reformasi ditabu, pemuda kerapkali menunjukkan taring sebagai garda depan perubahan. Di masa-masa sulit penjajahan, ketika Indonesia masih dalam cengkraman Belanda, pemuda justru sibuk mengobarkan api perlawanan. Hebatnya, pemuda bahkan tak takut vis a vis dengan penjajah.

Tinta emas sejarah mencatat, pada 20 Mei 1908 di tengah gencarnya penyiksaan terhadap kaum pribumi oleh penjajah, pemuda justru melakukan konsolidasi nasional di berbagai tempat. Hasilnya cukup memuaskan. Organisasi pemuda Boedi Oetomo lahir dan menjadi embrio perlawanan terhadap mereka yang berambut pirang.

Munculnya organisasi pemuda yang dipelopori oleh sekelompok kaum terdidik di bawah pimpinan Dr. Soetomo ini menjadi pemicu awal kesatuan bangsa di Tanah Air setelah terpecah belah dalam permainan politik adu domba yang dijalankan Belanda selama 350 tahun lamanya. Seiring perjalanannya, pemuda dengan mesin politik organisasi berhasil menyatukan api-api kecil menjadi kekuatan superpower yakni nasionalisme.

Hasilnya, revolusi pemuda 28 Oktober 1928 pecah. Momentum ini sekaligus menjadi penanda berakhirnya kekuatan jong-jong: seperti Jong Celebes, Jong Java, Jong Sumatera melebur dalam ikrar suci Perkoempoelan Indonesia Muda.

Dari situ, kesadaran bersama tumbuh dalam sanubari masyarakat saat itu. Puncaknya, konsolidasi nasional mencapai titik kulminasi dengan ditandai penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok yang kemudian dipaksa oleh pemuda agar segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Pasca kemerdekaan, peran pemuda semakin vital dalam membangun dan mengarahkan integrasi bangsa. Terbukti pada 1966, pemuda kembali menjadi martir penurunan rezim Orde Lama (Orla) yang dinilai sudah menyalahi cita-cita revolusi. Walaupun, banyak kalangan menilai GM hanya dijadikan instrumen politik Soeharto untuk menggulingkan musuh politiknya, tapi tetap saja pemuda merupakan garda depan penumbangan rezim timpang.

Setelah Orla tumbang diganti Orde Baru (Orba) dengan Soeharto sebagai pucuk pimpinan membawa sejuta harapan dan cita-cita yang diidamkan. Sayangnya, hubungan harmonis Orba dengan GM putus akibat Soeharto menghianati pemuda. Guna mempertahankan kekuasaan Pak Harto tak segan-segan menyingkirkan pemuda dari panggung politik.

Namun begitu, kekuasaan Orba pun akhirnya menemukan titik nadir pada Mei 1998. Rezim yang berkuasa selama 32 tahun dipaksa tumbang oleh GM melalui gelombang aksi demonstrasi mahasiswa. Merasa kekuatannya berakhir, detik-detik menentukan pun terjawab sudah. Dengan terbatah-batah, Soeharto membacakan surat pengunduran diri dari kursi RI 1.

Ilustrasi sejarah di atas adalah bukti nyata pengorbanan mahasiswa demi Bunda Pertiwi. Adalah fakta sosial yang tak terbantahkan, secara substansial mahasiswa berperan sebagai penyambung kelas atas dan kelas bawah. Dengan kata lain, mahasiswa sebagai kelas menengah selalu menjadi operating system yang melakukan gerakan besar yang berujung pada tatanan baru yang lebih baik dari sebelumnya.

Sayang seribu sayang, di era reformasi GM justru mengalami disorientasi gerakan ketika Pemilihan Presiden (Pilpres) diadakan secara langsung pada 2004. Sejak saat itu, ruang gerak dan peran sosial mahasiswa tak lagi dianggap penting masyarakat..

Menyadari hal tersebut, mau tidak mau, GM mesti berpikir ulang guna merumuskan strategi gerakan model teranyar. Artinya, Pekerjaan Rumah besar yang kini mesti dilakukan GM adalah mereformulasikan model gerakan guna menemukan semangat gerakan mahasiswa yang kontekstual.

Inilah yang mesti disadari bersama oleh semua elemen gerakan mahasiswa. Konsepsi atau model gerakan baru adalah sebuah realitas yang mesti dijawab oleh gerakan mahasiswa untuk bertahan ditengah perubahan sistem tata negara tetapi tanpa harus tercerabut dari idealitas gerakan.

Guna menemukan format gerakan, perlunya berdiskursi dengan beberapa sahabat aktivis mengenai konsep gerakan baru bagi gerakan mahasiswa. Dalam perbincangan itu, tercetus sebuah ide gemilang yakni konsep yang dinamakan Gerakan Multi Disipliner.

Secara sederhana, maksud konsep ini adalah selain mahasiswa bertugas sebagai agen kontrol sosial, gerakan mahasiswa juga berfungsi menyiapkan generasi-generasi terbaiknya untuk menyambut cita-cita besar arah kebangsaan yang bersifat jangka panjang.

Jika diterjemahkan dengan konteks kekinian di mana kondisi realitas kebangsaan sedang mengarah kepada perbaikan-perbaikan sistem di segala bidang. baik di bidang politik, ekonomi, budaya, ketahanan, gerakan mahasiswa mesti berkomunikasi dengan cita-cita besar ini dan melakukan negosiasi terhadap semua lini baik kalangan atas maupun bawah.

Starategi gerakan ini selaras dengan kacamata idealitas GM. Yakni GM mempunyai dua peran besar. Pertama, sebagai the agent of social control. Kedua, the sebagai agent of social change. Pendapat penulis, selama ini GM selalu berdiri di atas kedua pijakan tersebut.
Nah, pada titik ini, konsep baru yang ditawarkan di atas menemukan relevansinya. Sederhananya, konsep gerakan mahasiswa multidisipliner sedikit merubah paradigma tentang posisinya terhadap keberadaan Pemerintah.

Jika dalam momentum kelahiran peran gerakan mahasiswa pada berbagai periode yang telah disebutkan, GM selalu menjadi antitesa yang frontal terhadap rezim, berbeda dengan konsep baru ini yakni menempatkan gerakan mahasiswa sebagai patner incumbent.
Pilihan gerakan baru ini merupakan refleksi panjang kaum aktivis. Diakui atau tidak, ada harapan dari GM agar pemerintah dapat menjadi mitra gerakan yang sebelumnya mengalami kebuntuan. Namun perlu dipahami pula, kerja sama disini tidak dimaksudkan GM harus tunduk pada penguasa.

Akan tetapi, kerja sama yang dapat menguntungkan masing-masing pihak. Dari sini, harapan akan terwujud sebuah bangsa yang terhormat di muka bumi bukan mimpi. Akankah ini dilakukan GM, kita tunggu saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s