Nasib Pasar “Dinoyo”

September, 2010

“KAMI MENOLAK …!!! PENGGUSURAN DAN PEMBANGUNAN MALL DI PASAR DINOYO “

Itulah kalimat yang dapat dilihat tepat di depan pasar Dinoyo dan itu pula lah suara dan harapan para pedagang. Ketika dikonfirmasi kepada kepala HUMAS P3D ( Hubungan Masyarakat Persatuan Pasar Dinoyo ), bapak Zaini, ia mengatakan, “ kami merasa terpinggirkan, Pemerintahan Kota ( Pem-Kot ) bahkan dinas pasar sendiri tidak peduli terhadap nasib para pedagang, kami dianggap sapi perah”. Tegasnya lagi, bahwa pemerintah bersifat kapitalis dan tidak mengindahkan ekonomi kerakyatan yang sesungguhnya. Pem-Kot telah berkhianat, janji hanya sekedar memperbaiki tapi nyatanya kami akan digusur. Renov (renovasi) dan Rehab (rehabilitasi) yang digembor-gemborkan selama ini tidak memiliki wujud yang nyata. Pem-Kot beralasan tidak relevan, bahwa pasar Dinoyo hanya menyebabkan kemacetan, padahal selama ini faktanya kemacatan itu jarang terjadi, kemacetan itu bukan sepenuhnya karena pasar, teapi memang daerah sekitar pasar banyak aktifitas kemasyarakatan. Seperti, Universitas, Warnet ( Warung Internet ), sekolah, swalayan, warung makan dll. Ia juga membantah kekotoran pasar Dinoyo yang dituduhkan Pem-Kot terhadap para pedagang selama ini adalah karena dinas pasarlah yang tidak tegas dalam membuat aturan. Sebab kami mempunyai Paguyuban yang mempunyai badan hukum dan aturan yang jelas.

Memang semenjak berita akan digusurnya Pasar Dinoyo untuk dibangun sebuah Mall baik pengunjung maupun pedagang yang berjualan di dalam dan di sekitar pasar menurun drastis. Penurun ini mencapai 50 %. Terbukti dengan semakin sunyinya  pasar Dinoyo oleh para pengunjung dan banyaknya  lapak jualan yang tadinya banyak diisi oleh para pedagang, kini kosong. Salain itu, imbas dari adanya berita penggusuran tersebut para suplier ataupun pemasok gencar membatasi barang-barangnya kepada para pedagang untuk dipasarkan, kareana khawatir dan takut akan mengalami kerugian. Diakui juga oleh HUMAS P3D akibat situasi ini, belakangan kami banyak melakukan pengeluaran dana demi peningkatan pengamanan. Jelasnya lagi, ini adalah sebuah pembunuhan secara perlahan yang dilakukan oleh Pem-Kot, tetapi dengan inilah kami lebih banyak tahu, pengalaman dan lebih pintar bagaimana mengkondinisikan situasi pasar yang lebih aman.

Hal senada juga disampaiakan ibu Mistiadi (48) penjual semangka pasar Dinoyo. Dalam pengakuannya, ibu empat orang anak ini membenarkan adanya penurunan pengunjung sejak diberitakan akan digusurnya pasar Dinoyo. Ia mengatakan, bahwa semangka yang didapatnya dari daerah Belitar dan Banyuwangi ini, dijualnya per kilo seharga Rp 3.500,00 , harga ini naik yang sebelumnya seharga Rp 3.000,00. Kenaikan ini bukan didasari karena adanya relokasi Mall pada Pasar Dinoyo, tetapi karena faktor cuaca. Musim pancaroba belakangan ini sangat berpengaruh kepada kualitas dan kuantitas buah semangka.  Ketika ditanya tentang laba yang didapat, Ibu yang memiliki seorang suami penjahit ini menjawab dengan nada polos, “ saya gak hitung-hitung untung saya berapa per hari mas, pokoknya yang saya dapat dalam satu hari itu bisa untuk makan, ya Alhamdulillah”. Tapi juga harus diakui dengan adanya penurunan pengunjung membuat permintaan terhadap buah semangka ibu Mistiadi menjadi berkurang.

Sungguh ironis memang nasib para pedagang di pasar Dinoyo. Mereka terasa terpinggirkan dan dianak tirikan, mereka juga masih ingat kepada para anggota dewan yang sekarang duduk di DPRD ketika mereka kampanye meminta dukungan mereka berjanji akan merenovasi dan merehab pasar Dinoyo. Itu hanya bual belaka, nyatanya mereka merasa dikhianati , bukan renovasi yang mereka dapat tapi penggusuranlah yang akan mereka dapat. Para pedagang juga sangat berharap, kalau memang pasar yang sudah mereka diami untuk mencari nafkah bertahun-tahun ini benar akan dijadikan Mall, mereka meminta lantai dasar dan lantai satu tetap dijadikan pasar tradisional dan lantai diatasnya untuk proyek Mall itu sendiri ( seperti Pasar Besar ) agar nasib para pedagang tradisional tetap terjamin.

Dari realita diatas banyak pengaruh yang terjadi terhadap sejumlah barang atau jasa yang diminta dan ditawarkan oleh konsumen dan produsen pada tempat, waktu dan harga tertentu atau sering disebut permintaan dan penawaran pada pasar Dinoyo. Sebagai contoh, dengan adanya berita tentang penggusuran dan pembangunan Mall, terjadi penurunan jumlah pengunjung atau dalam bahasa ekonomi adanya penurunan jumlah konsumen dan selera masyarakat yang termasuk pada cateris paribus, hal ini jelas akan berpangaruh kepada permintaan dan akan menyebabkan bergesernya kurva permintaan  ( Qd = a – b Pd ). Atau terjadinya penurunan jumlah pedagang dengan asumsi cateris paribus jumlah produsen yang semakin berkurang dan terjadinya pengurangan pemasokan dari Agen atau supplier yang berimbas pada berkurangnya jumlah persiadaan, ini jelas akan mempengaruhi penawaran dan menyebakan bergesernya kurva penawaran itu sendiri(Qs= a + b Ps).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s