Resensi Para Priyayi Sebuah Novel

A. Pembahasan Teori

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan pragmatik. Pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Dalam hal ini tujuan tersebut dapat berupa tujuan politik, pendidikan, moral, agama, maupun tujuan yang lain. Dalam praktiknya pendekatan ini cenderung nenilai karya sastra menurut keberhasilannya dalam mencapai tujuan tertentu bagi pembacanya. Karena karya satra tidak lepas dari sebuah pelajaran dan permasalahan kehidupan. Sehingga sering sekali karya sastra disebut dengan realitas yang difiksikan dengan mengambil berbagai nilai atau pelajaran yang ada.

B. Sinopsis

Soedarsono anak keluarga buruh tani yang oleh sanak saudaranya diharapkan menjadi “pemula” untuk membangun keluarga priyayi. Berkat dorongan Asisten Wedana Ndoro Seten, ia dapat sekolah dan menjadi seorang guru. Disinilah ia mulai menapaki dunia priyayi pangreh praja. Soedarsono memiliki tiga orang anak, Noegroho (Opsir Peta), Hardojo (Guru), dan Soemini (istri Asisten Wedana). karena hidup berkecukupan Soedarsono merasa wajib membantu sanak saudaranya yang tidak mampu, dibawalah tiga keponakannya (Sri, Soedarmin, dan Soenandar) untuk ikut tinggal dan di sekolahkan di Wanagalih. Salah satu keponakannya Soenandar memiliki perangai yang berbeda dari yang lain, jail, nakal, dan selalu gagal dalam belajar.

Suatu ketika Seodarsono yang telah berganti nama menjadi Sastrodarsono, mengutus Soenandar untuk mengurus sekolah yang didirikannya di Wanalawas, diharapkan agar Soenandar lebih mandiri dan dapat bertanggung jawab. tapi Soenandar justru menghamili anak penjual tempe dan kabur. Lahirlah Wage yang kemudian diboyong ke wanagalih, dirawat dan disekolahkan, kemudian diganti namanya menjadi Lantip. Wanagalih adalah sebuah ibukota kabupaten. Kota itu lahir sejak pertengahan abad ke-19. Di kota itu Lantip sering teringat akan Mbah guru Sastrodarsono  yang selalu memberikan nasihat pada seisi rumah setiap kali ia pulang dari pertemuan pagi.

Lantip, nama aslinya adalah Wage karena lahir pada hari Sabtu Wage. Nama Lantip itu adalah sebuah nama pemberian dari keluarga Sastrodarsono saat Lantip  tinggal di keluarga itu, yaitu di jalan Satenan di kota Wanagalih. Sebelumnya Lantip tinggal bersama Emboknya Desa Wanalawas yang hanya beberapa kilometer dari kota Wanagalih. Hubungan Embok Lantip dengan keluarga Sastrodarsono itu dimulai dari penjualan tempe. Rupanya tempe buatan Embok Lantip itu berkenan di hati keluarga Sastrodarsono. Buktinya kemudian tempe Embok itu jadi langganan keluarga tersebut.

Lantip selalu ikut membantu menyiapkan dagangan tempe, dan ikut menjajakan nya berjalan di samping atau di belakang Mboknya menyelusuri jalan dan lorong kota. Lantip ingat bahwa dalam perjalan itu sengatan terik matahari Wanagalih. Wanagalih memang terkenal sangat panas dan rasa haus yang benar-benar mengeringkan tengorokan. Sekali waktu Lantip pernah merengek kepada Emboknya untuk dibelikan jajanan. Dengan ketus Emboknya menjawab dengan “Hesy! Ora usah”, dan Lantip pun terdiam. Lantip tahu Emboknya, meskipun murah hati juga sangat hemat dan tegas. Dia akan lebih senang  bila kami melepas haus di sumur pojok alun-alun atau bila beruntung dapat sekedar air teh di rumah langganan Emboknya. Salah satu langganan Emboknya yang murah hati itu adalah keluarga Sastrodarsono. Mereka dipanggil oleh keluarga Sastrodarsono. Mereka menyebutnya dengan “Ndoro Guru” dan “Ndoro Guru Putri”. Waktu mereka melihat Embok datang membawa Lantip, Ndoro Guru menanyakan dengan nada suara sangatlah ulem-nya dan penuh wibawa.

Sejak itu rumah keluarga Sastrodarsono menjadi tempat persinggahan mereka, hubungan mereka dengan keluarga itu menjadi akrab, bahkan lama-lama rumah itu menjadi semacam rumah kedua bagi mereka. Tetapi sangatlah tidak  pantas rumah gebyok itu terlalu besar dan bagus untuk dikatakan rumah kedua mereka bila disejajarkan dengan rumah mereka yang terbuat dari gedek atau anyaman bambu di desa Wanalawas. Juga bila diingat bahwa rumah itu adalah rumah milik seorang priyayi, seorang mantri guru sekolah desa, yang pada zaman itu mempunyai kedudukan cukup tinggi di mata masyarakat seperti Wanagalih. Mantri guru sudah jelas didudukan masyarakat dan pemerintah sebagai priyayi, ia punya jabatan dan juga punya gaji.

Sastrodarsono, adalah anak tunggal Mas Atmokasan seorang anak petani desa Kedung Simo. Sebelumya ia  hanya bekerja sebagai  guru bantu di Ploso. Dengan jabatan guru bantu itu, berarti Sastrodarsono adalah orang pertama dalam keluarganya yang berhasil menjadi priyayi. Sastrodarsono dijodohkan dengan Ngaisah yang nama aslinya Aisah putri tunggalnya seorang mantri candu di Jogorogo. Dik Ngaisah, begitu ia memanggil istrinya, ia seorang istri yang mumpunyai lengkap akan kecakapan dan keprigelannya bukan hanya pandai mamasak ia juga memimpin para pembantu di dapur, karena memang sejak lahir ia sudah menjadi anak priyayi dibandingkan dengan Sastrodarsono yang baru akan menjadi priyayi.

Anak-anak mereka lahir dalam jarak dua tahun antara seorang dengan yang lain. Noegroho anak yang paling tua, kemudian menyusul kelahiran adik-adik Noegroho, Hardojo dan Soemini. Anak-anaknya mereka masukan ke sekolah HIS, sekolah dasar untuk anak-anak priyayi, kemudian meneruskan pelajaran ke sekolah menengah atas priyayi, seperti MULO, AMS atau sekolah-sekolah guru menengah, seperti Sekolah Normaal, Kweek Sekul dan sebagainya.

Dalam perkembangan pembangunan keluarganya, mereka tidak hanya membatasi mengurus keluarga mereka saja, mereka juga sangat memperhatikan anggota keluarga yang jauh baik dari Sastrodarsono maupun dari keluarga Dik Ngaisah. Ngadiman, anak dari sepupu Sastrodarsono dititipkan pada keluarganya untuk disekolahkan di HIS dan berhasil menjadi priyayi walaupun hanya priyayi rendahan yaitu bekerja sebagai juru tulis di kabupaten. Begitu juga dengan kemenakan lain seperti Soenandar, Sri dan Darmin, semuanya mereka sekolahkan di HIS.

Soenandar yang jatuh cinta pada Ngadiyem ternyata adalah ayah Lantip, tetapi ia tidak mau mengakui kahamilan Ngadiyem Emboknya Lantip, bahkan ia minggat meninggalkan rumah Sastrodarsono yang akhirnya dapat diketahui dari laporan mantri polisi, Soenandar  bergabung dengan gerombolan perampok yang dipimpin oleh Samin Genjik yang markasnya telah dibakar termasuk Seonandar yang dititipkan keluarganya kepada Sastrodarsono untuk menjadi priyayi juga hangus terbakar.

Semenjak Lantip mengetahui perihal ayahnya, ia merasa kecewa dan malu karena ia hanya  anak jadah dan haram meskipun jelas bapaknya tetapi tidak mau menikah dengan Emboknya. Ternyata bapaknya  adalah gerombolan perampok. Selain itu juga sekarang Lantip mengerti mengapa keluarga Sastrodarsono sangat memperhatikan kehidupannya dan Ngadiyem Emboknya, karena Soenandar, yang  ayahnya Lantip itu, adalah masih tergolong keluarga dari Sastrodarsono

Hardojo anak kedua Sastrodarsono, anak yang paling cerdas dan yang paling banyak disenangi orang. Sekarang seperti adiknya, Soemini, sudah mapan mau membangun rumah tangga di tempatnya ia mengajar di Yogya dengan seorang guru tamatan kweekschool tetapi beragama Katholik. Orang tuanya, orang baik-baik, priyayi, guru di sekolah HIS katolik di Solo. Tetapi keinginan menikah dengan Dik Nunuk yang nama lengkapnya adalah Maria Magdalena Sri Moerniati begitu nama calon istri Nugroho, guru sekolah dasar khusus untuk anak perempuan di kampung Beskalan  ditolak oleh keluarga Sastrodarsono yang keluarganya beragama Islam.

Sesudah Noegroho kembali ke Wanagalih untuk menghibur bapaknya yang merasa sangat terpukul oleh tempelengan tuan Nippon, hal ini dikarena bapaknya dituduh mendirikan sekolah liar, padahal Sastrodarsono mendirikan sekolah hanya untuk menolong orang-orang desa yang tidak bisa membaca dan menulis, “yang disebut sekolah di Wanalas itu usaha kami sekeluarga. Kami pengagum Raden Adjeng Kartini, Ndoro. Kami Cuma meniru beliau, Ndoro.” Begitu ucapan bapaknya masih terngiang di telinga Noegroho saat beralasan pada tuan Nippon.

Seperti biasa Noegroho kembali bekerja di Sekolah Rakyat Sempurna di Jetis sekolah pada jaman Jepang gouverment’s HIS Jetis. Tetapi tanpa di duga Noegroho mendapat panggilan terpilih untuk ikut tentara peta atau Pembela tanah Air, dan segera berangkat ke Bogor untuk menjalani latihan dan saringan yang nantinya dapat ditempatkan di daidan-daidan atau batalyon-batalyon di Jawa.

Sepeninggalannya Mbah putri kesehatan Eyang kakung semakin memburuk yang sampai akhirnya ia meninggal dunia. Dalam upacara sambutan selamat tinggal untuk Mbah kakung Sastrodarsono semua anggota keluarga Sastrodarsono tidak ada yang berani memberikan pidato kata-kata terakhir, pada akhirnya Lantip yang dijadikan wakil dari keluarga besar Sastrodarsono yang menyampaikan pidato selamat jalan kepada Embah kakung di makam itu.

C. Analisis Struktur Novel Para Priyayi

Tema

Tema pada novel ini dapat dilihat melalui pengungkapan suatu persoalan dari keseluruhan cerita yang disajikan. bila diamati dari urutan cerita dapat diambil kesimpulan bahwa tema dari cerita Para Priyayi ini adalah perjuangan priyayi sejati demi mengayomi keluarga dan rakyat miskin.

Alur/ Plot

Runtutan peristiwa dalam cerita ini maju kemudian kembali kebelakang dengan menceritakan kisah yang terlewatkan. dapat disimpulkan bahwa novel Para Priyayi ini memiliki alur cerita yang amju mundur (flashback). dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, namun uniknya tokoh yang ada didalamnya seolah-olah bergantian bercerita.

Latar/ Setting

Cerita ini memiliki latar tempat di desa kecil di tepi sungai Bengawan Solo yang bernama Wanagalih. Diceritakan pula sebuah sketsa yang berlatar di Solo dan Yogya, namun hanya sepintas. suasana yang digambarkan sangat jelas, dengan menjelaskan lekuk-lekuk tempat, titik-titik peristiwa, bahkan penggambaran itu sama persis dengan aslinya(kenyataan) karena memang novel in diambil dari kehidupan nyata. bahkan dikisahkan pula peristiwa pemberontakan G 30 S PKI dengan latar alun-alun kota pada masa itu, dengan suasana mencekam.

Tokoh dan Perwatakan

  • Lantip, dengan watak tegas, bijaksana dan cerdas
  • Sastrodarsono, Eyang pembangun keluarga priyayi ini digambarkan dengan sosok penuh wibawa, pejuang sejati, kebapakan, dan teguh pendirian.
  • Ngaisah, Eyang putri yang sangat sabar, keibuan, dan penuh kasih sayang
  • Noegroho, anak sulung dan seorang tentara Peta Yogya, yang berwatak keras. tegas adn berwibawa.
  • Hardojo, anak kedua yang menjadi abdi dalem Mangkunegaran di Solo, ia sangat penyabar dan cinta tanah air.
  • Soemini, anak bungsu yang memiliki prinsip hidup yang kokoh, cerdas dan sangat mengutamakan pendidikan
  • Harimurti, sosok yang mudah terhasud, seniman yang memiliki citra rasa yang tinggi.

 

Konflik

Konflik yang terjadi adalah ketika Jepang masuk menggantikan Belanda untuk menjajah Indonesia. Sastrodarsono mendapat fitnah dan hampir kehilangan pekerjaannya. kemudian masalah datang silih berganti mulai dari tertangkapnya Harimurti, anggota Lekra yang dituduh sebagai anggota Gestapu, kemudian ia menghamili Gadis. Eyang putri wafat setelah beberapa bulab sebelumnya mendapat kabar bahwa cucuny Marie, anak Noegroho yang seorangpensiunan kolonel dan Direktur perusahaan Negara, hamil di luar nikah. Dan kemudian Eyang kakung meninggal. Tapi semua dapat diatasi berkat Lanti Sang anak jadah yang cerdas.

Susut Pandang

Sudut pandang pengarang dalam novel ini adalah sudut pandang orang Pertama. Sudut pandang orang pertama ini terlihat pada setiap episode cerita. Pengarang bertindak sebagai orang pertama yang sedang menuturkan pengalamannya. Sudut pandang ini menempatkan pengarang sebagai “saya” atau “aku” dalam cerita. Pada bagian Lantip, pengarang menjadi Lantip, pada bagian Sastrodarsono, pengarang menjadi Sastrodarsono, dan seterusnya. Ini suatu cara bercerita yang menarik karena pengarang menjadi beberapa tokoh sekaligus dalam satu rangkaian cerita.

Amanat

Amanat yang dapat kita petik adalah bagaimana sebenarnya seorang yang dikatakan “priyayi” yaitu seorang yang dapat mengayomi keluarga dan rakyat miskin. memiliki pendirian yang kokoh dan berjuang keras tanpa pamrih. selalu menjaga nama baik keluarga. “Mikul duwur, Mendem jero” (menjunjung tinggi nama baik, mengubur dalam aib keluarga).

D. Trikotomi Masyarakat Jawa dan Identitas Priyayi

Clifford Geertz, di dalam bukunya The Religion of Java membagi masyarakat Jawa menjadi tiga kelas. Kelas yang berkedudukan paling tinggi adalah kelas priyayi. Para priyayi sebagian besar adalah keturunan raja-raja dan prajurit zaman dahulu. Kelas yang berada di tengah adalah kelas santri, sedangkan kelas paling bawah disebut kelas abangan. Menurut Umar Kayam,  masyarakat Jawa merupakan sebuah hasil peradaban yang sangat kompleks, di mana pembagian yang sangat kaku, seperti pada sistem kasta, tidak dapat menjelaskan identitas masyarakat Jawa secara akurat. Memang, sistem trikotomi yang sangat kaku tersebut sungguh ada, tetapi dalam beberapa kasus, sistem tersebut dapat menjadi fleksibel.

Umar Kayam di dalam Para Priyayi, menggambarkan kelas-kelas tersebut bukan sebagai suatu hal yang mengikat, bahkan batasan-batasan yang terdapat di antara ketiga kelas sosial tersebut digambarkan sebagai sesuatu yang bersifat kabur. Karakter Sastrodarsono diceritakan mempunyai latar belakang seorang petani, seorang abangan. Kakeknya, ayahnya, dan saudara-saudaranya hanyalah petani-petani kecil. Sastrodarsono sendiri menjadi priyayi setelah ia menamatkan pendidikannya, dan menjadi guru bantu di sebuah kota kecil. Ia bukanlah keturunan priyayi, dan ia belum memiliki prestasi apapun untuk mendapatkan gelar priyayi, tetapi ia sudah dianggap sebagai seorang priyayi.

Wage, alias Lantip, merupakan seorang tokoh yang paling besar jasanya dalam mengungkapkan pendapat Umar Kayam tentang makna kata priyayi. Lantip adalah sosok Umar Kayam di dalam buku. Tokoh tersebut adalah sebuah sarana bagi Umar Kayam untuk mengekspresikan pendapatnya di dalam buku ini. Ia adalah seorang anak haram dari keponakan jauh Sastrodarsono, tetapi, Umar Kayam menjadikannya seorang pahlawan di dalam Para Priyayi. Lantip adalah gambaran Umar Kayam akan priyayi sejati. Lantip menggambarkan seorang priyayi sebagai seorang yang memiliki semangat “pengabdian kepada masyarakat banyak, terutama kepada wong cilik, tanpa pamrih kecuali berhasilnya pengabdian itu sendiri” dan “warna semangat kerakyatan”[1].

Tokoh Lantip sendiri cukup sulit untuk dikategorikan ke dalam kelas-kelas dalam trikotomi masyarakat Jawa. Ia memiliki pengertian yang sangat baik akan kehidupan priyayi, dan ia bersikap bagaikan seorang priyayi. Apalagi, ia juga berpendidikan. Tetapi, ia bukanlah keturunan priyayi, malahan ia adalah anak haram dari kaum abangan. Masyarakat Jawa terlalu kompleks untuk dijelaskan dengan trikotomi milik Geertz sehingga Umar Kayam menambahkan “sub-kelas” pada teori Geertz.

Geertz berpendapat bahwa kemampuan berbahasa membedakan satu kelas dari kelas yang lain. Di dalam teori Geertz, tingkatan bahasa yang dipakai oleh tiap pribadi sangat bergantung terhadap status orang yang bersangkutan, dan dengan siapa mereka berbicara. Tetapi, Umar Kayam berpikiran bahwa hal etiket bahasa yang sangat mengikat dan kaku seperti itu tidaklah sepenuhnya benar. Sekali lagi, terdapat beberapa pengecualian. Lewat karakter ayah Sastrodarsono, Umar Kayam kembali memberikan tambahan pada teori Geertz. Ayah Sastrodarsono, yang hanya seorang petani desa, dapat berbahasa menggunakan dialek krama inggil, dialek para priyayi dan kaum intelek. Ia menggunakan krama inggil saat berbicara dengan Ndoro Seten. Hal yang sebaliknya terjadi pada Sastrodarsono, yang diceritakan sering meluapkan emosinya ketika kalah di meja kesukan. “Bedes, monyet, goblok anak kecu, gerombolan maling……” [2] umpatnya. Ini bukanlah hal yang pantas dilakukan oleh seorang priyayi, tetapi di sini Umar Kayam menekankan bahwa priyayi, seperti halnya kaum santri dan abangan, jugalah manusia.

E. Hasil Analisis

Novel ini menonjolkan makna sosial. Makna itu tercermin dalam kehidupan masyarakat Jawa yang kental dengan tradisi dan budaya. Novel ini mengisahkan tentang kehidupan keluarga priyayi. Priyayi merupakan suatu tingkatan sosial dalam masyarakat Jawa. Sehingga seorang priyayi senantiasa dipandang terhormat dan agung dalam masyarakat Jawa. Kesan priyayi justru ditunjukkan oleh Lantip yang bukan berasal dari keluarga priyayi. Sehingga ide cerita dalam novel ini terletak pada peranan Lantip yang merupakan anak yang berasal dari desa dan jauh dari kehidupan priyayi.

Dalam realitasnya keadaan yang dinyatakan dalam berbagai karya Umar kayam adalah sebuah keadaan yang sangat nyata, dan juga dalam keadaan yang nyata pula walaupun dalam tokoh-tokoh yang ada dalam novel itu kemungkinan adalah sebuah rekaan. Namun dalam sebuah kebudayaan yang digambarkan adalah sebuah budaya jawa yang sangat kental, latar atu setting pun terdapat dalam kisah yang nyata.

Dalam ralitasnya seseorang seperti lantip banyak dan mudah di jumpai, hanya masalah dan kesukaran dalam memenuhi kebutuhan hidup menjadikan kehidupan seseorang itu merasa terbelenggu oleh jaman. Namun dalam tokoh lantip menggambarkan bagaimana ketulusan dan keikhlasan yang diberikan kepada keluarga sastrodarsono menjadikan lantip menjadi seorang yang pandai, cerdas dan dihormati. Dan berkat keluarga itupun lantip juga dapat menjadi seorang priyayi, namun perilaku kepriyayiannya itu adalah hasil dari kesantunan, ketulusannya mengabdi dengan keluarga sastrodarsono. Dengan mengkaji karya sastra kita mendapatkan berbagai macam pelajaran moral yang banyak seperti dalam novel sastra ini.

F. Pandangan Penulis

Para priyayi telah menjadi sebuah bagian sejarah yang tidak dapat terpisahkan ketika kita berbicara era pra-kemerdekaan. Kelompok ini memiliki kedekatan dengan kekuasaan, kemewahan, dan kehormatan.

Dalam bukunya –Para Priyayi– Umar Kayam berhasil menggambarkan kehidupan priyayi dari dekat. Menjadi priyayi adalah sebuah ketidakmustahilan, walaupun ia berasal dari golongan bawah. Segala daya upaya ditumpahkan agar seseorang bisa masuk golongan priyayi. Kegemilangan sebuah keluarga dapat dilihat dari upayanya menjadikan seluruh keluarga atau setidak-tidaknya salah satu dari anggota keluarga menjadi priyayi.

Novel Para Priyayi yang dikarang oleh Umar Kayam di New Haven pada tahun 1991, selain sebagai sebuah karya sastra, juga berperan sebagai sebuah “ensiklopedi” yang menyoroti kehidupan kaum birokrat atau aristokrat Jawa, para priyayi. Kemampuan Umar Kayam dalam mendeskripsikan kehidupan priyayi di dalam novel tersebut memang tampaknya tidak lepas dari pengalaman yang didapatnya semasa kecil sebagai anak priyayi. Melihat biografi beliau yang ditulis oleh A.N. Luthfi, dapat dipastikan bahwa buku ini terinspirasi oleh kejadian-kejadian nyata di dalam kehidupan beliau. Tidak heran bila beliau berhasil menciptakan suasana Jawa yang amat kental di dalam bukunya.

Buku ini mengungkapkan kehidupan priyayi dari dekat. Amat menarik mengupas buku ini. Umar Kayam dapat memotret pola pikir keluarga priyayi, kesederhanaan sekaligus kemewahan, dan nilai-nilai hidup orang Jawa.


[1] Umar Kayam, Para Priyayi: Sebuah Novel. (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1992) 306.

[2] Umar Kayam, Para Priyayi: Sebuah Novel. (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1992) 10.

Daftar Pustaka

Para Priyai: Sebuah Novel karangan Umar Kayam serta diambil dari Beberapa Sumber Resensi di Internet.

About these ads

One comment on “Resensi Para Priyayi Sebuah Novel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s